Jakarta, PR Politik – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memacu pengembangan industri bambu nasional dengan fokus pada penguatan Sumber Daya Manusia (SDM) dan pembangunan ekosistem yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Melalui program Akademi Komunitas Bambu (AKB) di bawah Direktorat Jenderal Industri Agro, bambu diproyeksikan menjadi komoditas unggulan masa depan yang bernilai ekonomi tinggi.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa bambu adalah material berkelanjutan yang sangat relevan dengan kebijakan industri hijau.
“Pengembangan industri bambu sejalan dengan arah kebijakan industri hijau karena bambu merupakan material berkelanjutan yang memiliki prospek besar untuk industri konstruksi, furnitur, kerajinan, hingga berbagai produk inovatif lainnya,” ujar Menperin dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (10/5).
Program AKB dirancang untuk menciptakan standar bahan baku yang konsisten guna memenuhi kebutuhan sektor hilir. Plt. Direktur Jenderal Industri Agro, Putu Juli Ardika, mengungkapkan bahwa inisiasi program ini telah dimulai di Bali pada tahun 2025 dan berhasil mencetak 25 Master Bambu melalui metode Training of Trainers (ToT).
“Program Akademi Komunitas Bambu dirancang untuk membangun komunitas SDM unggul yang mampu menjadi penggerak pengembangan industri bambu di daerah. Fokus pengembangannya adalah untuk membentuk material center/pusat logistic bambu penyedia bahan baku siap pakai,” ungkapnya.
Untuk tahun anggaran 2026, AKB akan menitikberatkan pada penguatan teknik pascapanen dan pengawetan (treatment). Kurikulum pelatihan disusun secara praktis dengan porsi 70 persen praktik lapangan dan 30 persen teori.
Kabupaten Bangli di Bali terpilih sebagai wilayah percontohan karena memiliki kesiapan lahan dan fasilitas mesin pengolahan. Selain Bali, Kemenperin berencana memperluas jangkauan program AKB ke wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta.
Guna mempercepat pembangunan infrastruktur pendukung, Kemenperin tengah menjajaki kerja sama dengan sektor swasta, salah satunya PT KT&G melalui skema Corporate Social Responsibility (CSR). Kolaborasi ini diarahkan untuk membangun asrama pelatihan serta fasilitas pengawetan bambu yang memadai.
“Kami berharap industri bambu nasional dapat berkembang menjadi salah satu sektor unggulan berbasis sumber daya alam terbarukan yang mampu menciptakan nilai tambah, membuka lapangan kerja, dan meningkatkan daya saing industri nasional,” pungkasnya.
Dengan sinergi antara pemerintah pusat, daerah, dan pelaku usaha, industri bambu nasional diharapkan tidak hanya mampu merajai pasar domestik, tetapi juga menjadi pemain kunci dalam ekspor produk berbasis material ramah lingkungan di kancah global.
sumber : Kemenperin RI















