Kudus, PR Politik – Menteri Perdagangan Budi Santoso menegaskan komitmen pemerintah untuk menggenjot ekspor jasa sebagai salah satu mesin pertumbuhan ekonomi baru Indonesia. Dalam kunjungan kerja di Kudus, Jawa Tengah, Kamis (12/3), Mendag Busan menyatakan kesiapannya untuk memfasilitasi sekolah vokasi agar dapat terhubung langsung dengan industri global melalui jaringan perwakilan perdagangan (perwadag) RI di luar negeri.
Langkah konkret yang akan diambil Kementerian Perdagangan adalah memfasilitasi presentasi bisnis (pitching) dan penjajakan bisnis (business matching) bagi sekolah-sekolah vokasi unggulan. Strategi ini diharapkan mampu membuka akses pasar bagi lulusan kejuruan untuk diserap oleh industri internasional.
“Tugas kami adalah mencarikan pasarnya. Sebagai langkah selanjutnya, Kemendag akan memfasilitasi presentasi daring antara sekolah vokasi dan 46 perwadag RI untuk membantu pemasaran ke luar negeri. Perwadag akan mencarikan pembelinya, kemudian mempertemukan secara daring melalui business matching,” ujarnya.
Dalam kunjungan tersebut, Mendag meninjau tiga sekolah vokasi binaan Djarum Foundation yang memiliki spesialisasi mumpuni: SMK Raden Umar Said (animasi), SMK NU Banat (tata busana), dan SMK Wisudha Karya (jasa keahlian teknik/pelayaran). Sektor-sektor ini dinilai memiliki potensi ekspor jasa yang besar, meliputi gim, animasi, desain grafis, hingga fesyen.
Berdasarkan data Bank Dunia, kontribusi jasa terhadap PDB global mencapai 63,3%, sementara di Indonesia baru menyentuh angka 43,8%. Hal ini menunjukkan ruang pertumbuhan yang masih sangat luas, mengingat nilai ekspor jasa Indonesia pada 2025 telah mencapai USD 42,80 miliar.
Direktur Djarum Foundation, Primadi H. Serad, menekankan bahwa kompetensi tinggi adalah kunci utama agar lulusan SMK dapat bersaing. Ia mencontohkan sektor animasi yang saat ini mengalami ketimpangan antara permintaan tinggi dan pasokan tenaga ahli yang minim.
“Animasi ini permintaannya tinggi, tetapi suplainya sedikit. Tugas kami adalah menjembatani pemenuhan permintaan yang tinggi. Untuk itu, talenta vokasi harus kompeten dari sisi infrastruktur, guru-guru, dan relasi. Hal inilah yang kami butuhkan agar kami dapat dibantu membukakan jalan bagi mereka untuk berkarya,” katanya.
Siswa SMK di Kudus pun telah membuktikan kemampuannya. Alika, siswi SMK Raden Umar Said, tengah mengerjakan proyek mini series untuk jenama besar. Sementara itu, karya siswa SMK NU Banat telah dipasarkan ke berbagai negara seperti Jepang, Prancis, dan Italia.
Selain mendorong ekspor, Mendag Busan mengajak para siswa untuk menyukseskan program Gerakan Kamis Pakai Lokal (Gaspol). Program ini bertujuan membangun kebanggaan terhadap produk dalam negeri sekaligus memperkuat rasio kewirausahaan nasional.
“Dalam kegiatan promosi yang digelar Kemendag, para desainer berkesempatan bertemu dan mempresentasikan karya-karya mereka. Kami juga mempertemukan para desainer dengan industri agar bisa memasarkan produk-produk tersebut,” jelasnya.
Mendag Busan juga menekankan pentingnya penguatan pasar domestik sebagai fondasi sebelum bersaing di kancah internasional. “Ketika adik-adik membuat desain dan produk yang bagus, yang akan memakainya adalah kami juga. Setelah di dalam negeri kita kuat, pasti di luar negeri kita juga akan menjadi pesaing yang kuat,” imbuhnya.
sumber : Kemendag RI















