Jakarta, PR Politik (7/11) – Wakil Ketua Fraksi PKS Sukamta menyampaikan keprihatinannya atas situasi politik yang terus memburuk di Tunisia, setelah Pemilu Oktober 2024 yang tidak berhasil meredakan krisis politik. Kemenangan Presiden petahana, Kais Saied, yang dianggap penuh kecurangan, telah memperburuk keadaan, dengan adanya penangkapan terhadap tokoh-tokoh oposisi, penekanan terhadap media, dan militer yang semakin terlibat dalam pemerintahan.
Dalam kunjungan delegasi Parlemen Tunisia pada Selasa (5/11), Sukamta mengungkapkan bahwa kegagalan demokrasi di Tunisia tidak hanya berdampak bagi negara tersebut, tetapi juga berpengaruh terhadap proses demokratisasi di kawasan Afrika Utara. “Tingkat partisipasi pemilu di Tunisia pada Oktober lalu sangat rendah. Ini menunjukkan bahwa tingkat kepercayaan terhadap institusi demokrasi sangat rendah. Sementara itu, kondisi ekonomi dan tingkat pengangguran semakin memburuk. Sebagai negara yang memiliki hubungan baik dengan Tunisia, kita tentu ikut prihatin dengan perkembangan situasi di sana,” ungkap Sukamta.
Anggota Komisi 1 DPR RI ini lebih lanjut menjelaskan bahwa setiap negara memiliki tantangan tersendiri dalam perjalanan demokrasi, terutama menghadapi pihak-pihak yang berusaha untuk memonopoli kekuasaan serta praktek korupsi, kolusi, dan nepotisme yang sudah mengakar. Namun, Sukamta menekankan bahwa semangat kebebasan berbicara adalah elemen fundamental dalam demokrasi yang harus dijaga.
“Saat ini, peluang Tunisia untuk kembali ke jalur demokrasi masih terbuka lebar. Negara ini memiliki pengalaman panjang dalam hal demokrasi, dan militer Tunisia selama ini cukup berpihak kepada rakyat. Presiden Tunisia terpilih harus mengambil langkah pertama dengan melakukan rekonsiliasi nasional, yang mencakup membebaskan lawan politik dan anggota parlemen oposisi yang ditahan. Langkah ini akan disambut baik oleh semua pihak dan akan membuka jalan untuk merancang kembali demokratisasi yang lebih inklusif di Tunisia,” jelas Sukamta.
Menurut Sukamta, kebebasan berbicara dan rekonsiliasi politik adalah kunci untuk memulihkan kepercayaan rakyat terhadap demokrasi di Tunisia. Ia juga mengajak komunitas internasional untuk terus mendukung proses demokratisasi di Tunisia, agar negara tersebut dapat kembali stabil dan demokratis.
Baca Juga: Presiden Prabowo dan PM Singapura Bahas Penguatan Kerja Sama Bilateral















