Peringkat Kedua Dunia, Menteri Bahlil Targetkan Indonesia Bebas Impor Solar per Juli 2026

Bogor, PR Politik – Sektor Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memegang peranan krusial dalam mewujudkan Asta Cita Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, khususnya terkait swasembada energi. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa ketahanan energi adalah fondasi utama bagi stabilitas ekonomi dan pertahanan kedaulatan negara.

Hal tersebut disampaikan Bahlil dalam arahannya pada Apel Komandan Satuan TNI Tahun 2026 di Bogor, Rabu (29/4). Dalam kesempatan itu, ia memaparkan prestasi gemilang Indonesia yang diakui secara internasional di tengah ketidakpastian geopolitik global.

“Di tengah (kondisi) geopolitik itu melahirkan ketidakpastian terhadap seluruh pasokan energi global. Dan dunia hampir semua merasakan dampak ini. Dalam kondisi seperti ini, kita harus bersyukur di bawah kepemimpinan Presiden Bapak Prabowo Subianto yang notabenenya adalah alumni TNI, Indonesia dinilai oleh JP Morgan itu menjadi negara terbaik kedua di dunia yang mempunyai ketahanan energi,” ujarnya.

Berdasarkan laporan Eye on the Market dari JP Morgan Asset Management, Indonesia menduduki peringkat kedua dari 52 negara konsumen energi terbesar di dunia. Posisi ini berada tepat di bawah Afrika Selatan dan satu tingkat di atas Tiongkok yang menempati posisi ketiga.

Ketahanan Indonesia dinilai stabil berkat produksi domestik minyak dan gas bumi (migas) yang signifikan, cadangan batubara yang melimpah, serta potensi besar Energi Baru Terbarukan (EBT). Keberhasilan ini juga didukung oleh pencapaian lifting minyak tahun 2025 yang memenuhi target sebesar 605 ribu barel per hari (bph), dengan target baru tahun ini sebesar 610 ribu bph.

Untuk memperkuat pasokan gas masa depan, pemerintah mengumumkan temuan besar dari hasil eksplorasi sumur Geliga-1 di Blok Ganal, lepas pantai Kalimantan Timur. Temuan ini diperkirakan mengandung sumber daya gas sebesar 5 triliun kaki kubik (Tcf) dan 300 juta barel kondensat.

Baca Juga:  Menteri Sosial Gus Ipul Ajak Pemprov Kaltim Sinergi Data Tunggal untuk Pengentasan Kemiskinan

“Satu tahun setengah kita melakukan eksplorasi, kita dapat lagi gas di Kalimantan Timur, namanya Geliga. Itu 5 TCF, 5 triliun mm. Dengan mendapatkan 300 juta kondensat, ekuivalen dengan 375 juta barel minyak. Ini akan produksi di 2028-2029,” jelas Bahlil di hadapan para komandan satuan TNI.

Salah satu terobosan paling radikal yang dipersiapkan pemerintah adalah penghentian impor solar mulai pertengahan tahun ini. Melalui implementasi nasional Biodiesel 50% (B50) yang dijadwalkan pada 1 Juli 2026, ketergantungan terhadap BBM impor diharapkan hilang sepenuhnya.

“Kebutuhan kita, BBM solar, pada tahun 2026, itu kita butuh kurang lebih sekitar 40 juta kiloliter. Dari 40 juta kiloliter ini, kita dengan B40 dan B50, Alhamdulillah mulai tahun 2026, tidak lagi kita melakukan impor solar pertama sejak Republik ini berdiri. Dari solar kita sudah tidak impor,” tegasnya.

Selain solar, pemerintah tengah gencar mencari substitusi impor LPG melalui pengembangan Dimetil Eter (DME) dan Compressed Natural Gas (CNG). Saat ini, penggunaan CNG mulai masif di sektor industri, perhotelan, hingga restoran dengan memanfaatkan bahan baku yang sepenuhnya berasal dari perut bumi Indonesia.

sumber : ESDM RI

Berita Terbaru

Artikel Lainnya

Infografis Terbaru