Pangkas Penundaan 27 Tahun, Menteri Bahlil Desak Proyek Gas Abadi Masela Masuk Tahap Tender Tahun Ini

Tokyo, PR Politik – Pemerintah Indonesia menegaskan sikap tidak akan mentoleransi lagi penundaan Proyek Abadi Masela yang telah terbengkalai selama hampir tiga dekade. Dalam pertemuan bilateral di Tokyo, Jepang, Minggu (15/3), Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menekan pimpinan INPEX Corporation untuk segera mempercepat keputusan investasi akhir agar proyek strategis di Laut Arafura tersebut tidak lagi berlarut-larut.

Proyek senilai USD 20 miliar atau setara Rp339 triliun ini diproyeksikan menjadi mesin pertumbuhan ekonomi baru bagi wilayah Indonesia Timur sekaligus menjamin ketahanan pasokan gas nasional.

“Karena kami berkeinginan ini bisa cepat supaya jangan ulur-ulur lagi. Ini 27 tahun, masa kita mau tunggu sampai usia saya 60 tahun baru jadi kan. Apalagi itu kampung ibu saya. Jadi saya pikir bisa tahun ini kita semua tender EPC,” tegasnya di hadapan pimpinan INPEX.

Ia mengapresiasi kemajuan pembangunan proyek yang kini telah mencapai 25%. Mengacu pada progres tersebut, pemerintah menargetkan penyelesaian tahap Front End Engineering and Design (FEED) pada kuartal kedua atau selambatnya kuartal ketiga tahun 2026. Hal ini bertujuan agar proses tender Engineering Procurement Construction (EPC) dapat dilakukan secara paralel pada tahun ini.

Guna memberikan kepastian bagi investor, Bahlil menawarkan solusi radikal terkait pembeli gas (buyer). Jika hingga April 2026 belum ada pembeli luar negeri yang serius untuk kapasitas produksi 9 Million Tonnes Per Annum (MTPA) tersebut, maka Danantara siap mengambil alih sebagai pembeli utama untuk kebutuhan hilirisasi domestik.

“Supaya ada kepastian buyer. Saya menghargai buyer luar negeri, tapi pada saatnya sekarang negara Indonesia harus hadir, untuk bersama-sama dengan INPEX dalam rangka memastikan operasi. Jadi kami saja yang membeli,” ujarnya.

Baca Juga:  Menteri Meutya Hafid: Indonesia dan India Resmikan Aliansi Strategis di Bidang Digital

Dari sisi regulasi, hambatan administratif diklaim telah tuntas. Dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) resmi diterbitkan pada 13 Februari 2026, menyusul persetujuan pelepasan kawasan hutan yang diberikan oleh Kementerian Kehutanan pada Januari 2026.

CEO INPEX Corporation, Takayuki Ueda, menyambut baik dukungan penuh pemerintah Indonesia. Ia menegaskan komitmen jajaran direksinya untuk merealisasikan proyek yang juga telah ia kawal selama 12 tahun terakhir.

“Terima kasih banyak, Pak Menteri, untuk kemurahan hati dan komitmennya untuk mendukung proyek ini. Karena ini bukan hanya isu buat saya pribadi, tapi kami segera jajaran INPEX memiliki komitmen juga untuk mempercepat realisasi Abadi ini, termasuk ini saya sudah 12 tahun mengerjakan Abadi. Bukan hanya Pak Menteri, tetapi juga kami memiliki komitmen yang sama untuk segera mengerjakan Abadi. Dan setelah berdiskusi dengan Pak Menteri, kami semakin semangat lagi untuk mempercepat penyelesaian proyek Abadi ini,” ungkapnya.

Penuntasan milestone yang disepakati di Jepang ini menjadi sinyal kuat bahwa Indonesia kini berada di jalur yang tepat untuk membangun hub energi di wilayah timur. Dengan birokrasi yang dipangkas dan komitmen investasi masif dari INPEX, Proyek Abadi Masela kini bersiap bertransformasi dari sekadar rencana di atas kertas menjadi realitas penggerak ekonomi nasional.

sumber : ESDM RI

Berita Terbaru

Artikel Lainnya

Infografis Terbaru