Yogyakarta, PR Politik – Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli menekankan pentingnya peran strategis serikat pekerja di lingkungan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk menjaga stabilitas dan keberlanjutan perusahaan. Hal tersebut disampaikannya saat membuka Kongres Luar Biasa (KLB) Konfederasi Serikat Pekerja (KSP) BUMN 2026 di Yogyakarta, Kamis (29/1).
Menaker mengingatkan bahwa isu kesejahteraan pekerja tidak dapat dipisahkan dari kondisi kesehatan finansial perusahaan. Menurutnya, serikat pekerja harus memiliki pandangan yang lebih luas, tidak hanya terpaku pada tuntutan upah semata.
“Kalau perusahaan tidak berkelanjutan, kesejahteraan tidak akan pernah aman. Serikat pekerja harus ikut menjaga bisnis tetap hidup,” katanya.
Menaker menyoroti tantangan besar yang dihadapi BUMN, terutama terkait disrupsi teknologi Artificial Intelligence (AI) dan transisi menuju ekonomi hijau. Perubahan struktur pekerjaan yang masif menuntut serikat pekerja untuk menjadi mitra dialog yang konstruktif dalam proses transformasi perusahaan.
“Perubahan ini tidak bisa dihindari. Tapi kalau salah kelola, pekerja yang paling terdampa. Transformasi harus adil. Jangan sampai perusahaan berubah, tapi pekerjanya tertinggal” ujarnya.
Sebagai langkah nyata dalam mendukung Gerakan Produktivitas Nasional (GPN), Menaker mendorong anggota serikat pekerja untuk memperoleh sertifikasi ahli produktivitas. Program ini bertujuan agar pekerja mampu memberikan masukan teknis yang solutif bagi tantangan internal perusahaan.
“Kami ingin teman-teman semua punya sertifikat sebagai ahli produktivitas sehingga dapat memahami persoalan yang dihadapi perusahaan, mengusulkan program dan menjadi champion di perusahaan masing-masing,” jelas Yassierli. Hingga tahun lalu, Kemnaker tercatat telah mencetak sekitar 700 ahli produktivitas di berbagai sektor.
Mengacu pada data BPS per Agustus 2025, angka pengangguran nasional masih menyentuh 7,46 juta orang. Menaker menegaskan bahwa pertumbuhan BUMN adalah kunci untuk menekan angka tersebut. Sebaliknya, BUMN yang goyah akan menjadi risiko besar bagi stabilitas lapangan kerja nasional.
“Kalau BUMN tumbuh, pengangguran bisa ditekan. Kalau tidak, risikonya justru makin besar,” tegasnya.
Menanggapi arahan tersebut, Presiden KSP BUMN Ahmad Irfan Nasution menyatakan kesiapan para pekerja BUMN untuk beradaptasi. Ia berkomitmen membawa BUMN menjadi pemain utama yang kompetitif, baik di kancah domestik maupun pasar global.
sumber : Kemnaker RI















