Zainul Munasichin Dorong Pesantren Jadi Agen Strategis dalam Pencegahan DBD

Anggota Komisi IX DPR RI dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Zainul Munasichin | Foto: DPR RI (dok)

Jakarta, PR Politik – Anggota Komisi IX DPR RI dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Zainul Munasichin, menekankan pentingnya penguatan strategi pencegahan demam berdarah dengue (DBD) melalui pelibatan aktif komunitas akar rumput, termasuk pesantren. Ia mendesak pemerintah untuk meningkatkan sosialisasi serta menjamin ketersediaan larvasida abate secara gratis dan terdistribusi melalui jaringan kader serta tokoh masyarakat yang kredibel.

“Pemberian abate terbukti efektif dalam menghambat perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti. Namun, tingkat pemahaman dan kepercayaan masyarakat terhadap penggunaannya perlu ditingkatkan. Oleh karena itu, pemerintah harus memastikan abate mudah diakses secara gratis dan melibatkan tokoh-tokoh kunci di masyarakat, seperti kader posyandu, kader desa, dan terutama, tokoh serta institusi pesantren dalam pendistribusiannya,” ujar Zainul dalam acara KOBAR (Koalisi Bersama) Lawan Dengue yang digelar oleh Kaukus Kesehatan DPR RI bersama Kementerian Kesehatan RI, Senin (26/5).

Menurut data Kementerian Kesehatan RI, hingga 13 April 2025 tercatat sebanyak 38.740 kasus DBD di Indonesia dengan angka kematian mencapai 182 jiwa. Fakta ini menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara dengan jumlah kasus dengue tertinggi secara global.

Zainul menilai pesantren memiliki peran krusial dalam pencegahan DBD secara nasional. “Pesantren sebagai komunitas besar dengan lingkungan yang terkadang padat berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk jika tidak dikelola dengan baik. Oleh karena itu, keterlibatan pesantren sangat penting, baik sebagai wadah edukasi maupun sebagai agen pendistribusi abate di lingkungan mereka,” jelas legislator dari Dapil Jawa Barat IV ini.

Ia menambahkan, pendekatan edukatif yang dilakukan tidak cukup jika hanya melalui metode konvensional seperti seminar, melainkan perlu mengedepankan pendekatan berbasis komunitas yang memperhatikan kearifan lokal.

“Gerakan 3M Plus (Menguras, Menutup, Mendaur Ulang, dan tindakan pencegahan lainnya) bersama dengan pemanfaatan abate harus menjadi bagian dari budaya hidup sehat masyarakat. Pemerintah memiliki tanggung jawab untuk memastikan ketersediaan abate secara gratis dan mempermudah aksesnya, terutama melalui tokoh dan institusi yang dihormati seperti pesantren. Dengan distribusi yang tepat sasaran, kepercayaan masyarakat akan semakin meningkat, dan upaya pencegahan akan lebih efektif,” tegasnya.

Baca Juga:  Sari Yuliati Minta Penegak Hukum Pastikan Daerah Wisata Tidak Jadi Celah Peredaran Narkoba

Zainul menyimpulkan bahwa keberhasilan pencegahan DBD bertumpu pada penanganan akar persoalan: meningkatkan kesadaran perilaku hidup bersih dan sehat, pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan, serta partisipasi aktif seluruh elemen masyarakat dalam upaya tersebut.

 

Sumber: fraksipkb.com

Berita Terbaru

Artikel Lainnya

Infografis Terbaru