Jakarta, PR Politik – Wakil Ketua Komisi XI DPR RI, Mohamad Haekal, menegaskan bahwa perhatian utama DPR RI saat ini tertuju pada upaya menjaga stabilitas kelembagaan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai regulator independen, sekaligus memastikan Bursa Efek Indonesia (BEI) tetap berfungsi sebagai pasar yang kredibel, berkualitas, serta dipercaya investor.
Penegasan tersebut disampaikan Haekal dalam merespons dinamika yang berkembang di sektor pasar keuangan nasional, termasuk mundurnya sejumlah pimpinan OJK serta pejabat eksekutif BEI yang terjadi bersamaan dengan terbitnya laporan evaluasi Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengenai kondisi pasar modal Indonesia.
“Dalam situasi seperti ini, yang paling penting adalah memastikan stabilitas kelembagaan OJK sebagai regulator dan menjaga Bursa sebagai pasar yang sehat, transparan, dan berkualitas. Ini krusial untuk menjaga kepercayaan investor dan stabilitas sistem keuangan nasional,” ujar Haekal.
Ia menegaskan bahwa tidak ada pejabat dari Danantara selaku Badan Pengelola BUMN, direksi BUMN, maupun pihak-pihak yang memiliki keterkaitan dengan institusi tersebut yang akan mengisi posisi pimpinan di OJK ataupun jabatan eksekutif di BEI.
“Seluruh posisi yang kosong akan diisi melalui mekanisme yang berlaku oleh figur-figur profesional, independen, dan memiliki kompetensi tinggi di bidang pasar keuangan,” tegasnya.
Menurut Haekal, keberlangsungan serta kualitas pasar modal nasional tidak hanya bergantung pada struktur kelembagaan semata, tetapi juga ditentukan oleh kredibilitas sumber daya manusia, kepastian regulasi, serta konsistensi dalam pelaksanaan fungsi pengawasan.
“Komisi XI DPR RI akan terus menjalankan fungsi pengawasan secara aktif dan konstruktif untuk memastikan OJK tetap independen dan kuat sebagai regulator, serta BEI terus berperan sebagai pasar yang efisien, berintegritas, dan berdaya saing global,” kata Haekal.
Ia juga mengingatkan seluruh pemangku kepentingan, baik regulator, pelaku pasar, maupun masyarakat luas, agar tidak terjebak pada spekulasi yang berpotensi menimbulkan persepsi negatif serta mengganggu stabilitas pasar keuangan.
“Kita perlu menenangkan pasar, bukan memperkeruh keadaan. Fokus kita adalah memperkuat fondasi pasar keuangan nasional secara berkelanjutan,” pungkasnya.















