Jakarta, PR Politik (10/11) — Wakil Ketua DPR RI, Saan Mustopa, menyampaikan keprihatinannya terkait aksi peternak sapi di Pasuruan, Jawa Timur, yang membuang susu akibat pembatasan pasokan ke Industri Pengolahan Susu (IPS) dan tingginya impor susu. Menurut Saan, pemerintah harus memberikan perhatian serius kepada peternak lokal agar tidak lagi terjadi kasus pembuangan susu hasil panen.
“Kita berharap petani atau peternak lokal, khususnya peternak sapi perah, tetap menjadi prioritas perhatian dari pemerintah,” kata Saan saat berbicara kepada media di Jakarta, Sabtu (9/11/2024).
Saan mengakui bahwa impor susu memang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri yang besar. Namun, ia menegaskan bahwa pemerintah harus memastikan agar prioritas tetap diberikan kepada peternak lokal sehingga pasokan susu dalam negeri bisa maksimal.
“Dalam memenuhi kebutuhan susu nasional, di samping impor, pemerintah harus tetap memperhatikan peternak lokal,” ujar politisi Fraksi Partai NasDem itu.
Menurut Saan, jika pasokan susu dari peternak lokal tidak mencukupi, barulah kebijakan impor diterapkan untuk menutupi kekurangan tersebut. Dengan cara ini, diharapkan tak ada lagi susu peternak lokal yang tidak terserap karena kalah bersaing dengan produk impor.
“Nanti kalau ada kekurangan dari lokal, barulah kita impor untuk memenuhi kebutuhan nasional,” jelasnya.
Baca Juga: Nevi Zuairina: Pengelolaan Sampah Efektif Penting untuk Lingkungan Berkelanjutan
Kasus pembuangan susu oleh peternak Pasuruan terjadi karena pembatasan pasokan ke industri dan kurangnya pengawasan terhadap masuknya susu impor. Peternak sekaligus pengepul susu, Bayu Aji Handayanto, mengungkapkan bahwa kondisi ini disebabkan oleh lemahnya kontrol pemerintah terhadap volume impor susu.
Bayu berharap pemerintah lebih memperhatikan distribusi susu dalam negeri dan siap berdiskusi mengenai harga dengan industri untuk memastikan pasar lokal tetap terjaga.
Di sisi lain, Kementerian Pertanian (Kementan) mengungkapkan rencana impor satu juta ekor sapi perah dalam periode 2025-2029. Impor ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan susu dalam program Makan Bergizi Gratis dan pasokan susu reguler. Menteri Pertanian Amran Sulaiman menyatakan bahwa total kebutuhan susu pada 2029 diproyeksikan mencapai 8,5 juta ton, dengan 4,9 juta ton untuk konsumsi reguler dan 3,6 juta ton untuk program Makan Bergizi Gratis.
Sumber: dpr.go.id















