Tianjin, PR Politik – Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa, menegaskan bahwa mesin pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini berada dalam kondisi prima. Performa impresif tersebut ditopang oleh arsitektur pengelolaan fiskal yang sehat, pruden, serta terjaga dengan baik. Manifes ketahanan ekonomi ini dipaparkan Menkeu saat memberikan kuliah umum di hadapan sivitas akademika Nankai University, Tianjin, Tiongkok, Jumat (20/6).
“Kehormatan besar bagi saya untuk berada di Nankai University. Hari ini, dengan sukacita saya membagikan perspektif Indonesia mengenai kebijakan ekonomi, manajemen fiskal, serta pembangunan nasional yang berkelanjutan. Saya berharap dialog ini memperkuat pertukaran akademik, memperdalam pemahaman bersama, dan semakin meningkatkan persahabatan antara Indonesia dan Tiongkok,” ujarnya di awal orasinya.
Di hadapan Rektor Nankai University Chen Yulu, Wakil Rektor Eksekutif Chen Jun, Wakil Rektor Sheng Bin, Profesor Xingmin Li, serta ratusan mahasiswa, Menkeu membedah draf perekonomian Indonesia yang menunjukkan kinerja menonjol di tengah stabilisasi konjunktur pasar global.
Pada kuartal I tahun 2026, produk domestik bruto (PDB) Indonesia melesat tumbuh sebesar 5,61 persen secara tahunan (year-on-year), melampaui rata-rata pertumbuhan negara-negara anggota G20 maupun kawasan ASEAN. Capaian makro tersebut diperkuat oleh stabilitas harga domestik yang kokoh, di mana tingkat inflasi hingga Mei 2026 mampu dikunci pada level 3,08 persen.
“Indonesia terus tampil menonjol dengan pertumbuhan PDB Kuartal I-2026 sebesar 5,61% yoy, mengungguli banyak negara ekonomi G20 dan ASEAN. Di saat yang sama, kami mempertahankan stabilitas harga dengan inflasi Mei 2026 sebesar 3,08%. Perkembangan ini membuktikan bahwa Indonesia memasuki periode ini dengan pertumbuhan yang kuat, inflasi terkendali, dan ketahanan kebijakan yang kredibel,” urainya menjabarkan indeks makroekonomi nasional.
Lebih mendalam, sejumlah indikator riil membuktikan bahwa sirkuit aktivitas ekonomi domestik terus bergerak di zona positif. Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia bertahan pada level ekspansif 50,0. Selain itu, pertumbuhan likuiditas perekonomian tercatat melompat hingga 14,8 persen secara tahunan, disusul oleh penyaluran kredit perbankan yang tumbuh subur sebesar 11,5 persen.
Dari sisi ketahanan eksternal, Indonesia menorehkan rekor impresif dengan mencatatkan surplus neraca perdagangan selama 72 bulan berturut-turut. Benteng moneter negara juga dipertebal oleh posisi cadangan devisa yang kokoh di angka USD144,9 miliar. Jumlah tersebut setara dengan kemampuan finansial untuk membiayai 5,6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, sekaligus bertindak sebagai bantalan (buffer) yang kuat dalam memitigasi risiko disrupsi global.
Ia menandaskan bahwa lompatan pertumbuhan ekonomi yang kuat ini tidak boleh sekadar menjadi deretan angka di atas kertas indikator makro. Efek positifnya diklaim telah bertransformasi menjadi manfaat riil yang instan dirasakan oleh masyarakat horizontal di daerah.
Injeksi kebijakan fiskal yang tepat terbukti andal menstimulus terciptanya sekitar 1,9 juta lapangan kerja baru di berbagai sektor industri. Dampaknya, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) berhasil dipangkas merosot ke level 4,68 persen pada tahun 2026.
Di sisi lain, efektivitas jaring pengaman sosial melalui program perlindungan sosial (perlinsos) terpadu sukses mendorong penurunan tingkat kemiskinan nasional secara bertahap, dari angka 8,57 persen pada September 2024 menjadi 8,25 persen pada September 2025.
“Ini membuktikan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak hanya tangguh di tingkat makro, melainkan juga secara nyata bertransformasi menjadi ketersediaan lapangan kerja, penurunan angka kemiskinan, serta kesejahteraan masyarakat yang lebih luas dan merata,” pungkasnya mengakhiri kuliah umumnya.
Menutup laporannya, bauran kebijakan makroekonomi yang kredibel dan inklusif di bawah komando Kemenkeu ini diproyeksikan andal merawat tingkat kepercayaan (public trust) investor internasional. Langkah strategis yang bersih dari sekat birokrasi kaku ini dipastikan terus bergulir secara akuntabel demi mengamankan target pembangunan nasional jangka panjang secara berkelanjutan.
sumber : Kemenkeu RI















