Jakarta, PR Politik — Anggota Komisi I DPR RI Fraksi PKS, Syahrul Aidi Maazat, mendesak pemerintah segera menuntaskan persoalan sekitar 2.000 desa di Indonesia yang masih mengalami blank spot atau belum terhubung dengan jaringan internet. Ia menilai kesenjangan akses digital telah menjadi hambatan serius bagi pemerataan pembangunan dan potensi ekonomi di tingkat desa.
“Masih ada sekitar 2.000 desa yang belum tersambung internet. Riau termasuk di antara wilayah yang terdampak. Mudah-mudahan ini bisa segera kita perjuangkan bersama pemerintah,” ujar Syahrul Aidi dalam program PKS Legislative Report, menjelang Rapat Paripurna Pembukaan Masa Sidang DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (4/11).
Sebagai anggota Komisi I DPR RI yang bermitra dengan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Syahrul Aidi menegaskan bahwa akses internet kini telah menjadi kebutuhan dasar, bukan lagi sekadar fasilitas tambahan.
“Konektivitas digital harus menjadi prioritas nasional. Internet hari ini bukan sekadar sarana komunikasi, tapi kunci bagi desa untuk berkembang, berinovasi, dan membuka peluang ekonomi baru,” tegasnya.
Selain persoalan konektivitas, Syahrul Aidi juga menggagas inisiatif “Desa Go International”, yakni mendorong produk-produk lokal berbasis masyarakat agar bisa menembus pasar global. Ia menyoroti potensi besar Indonesia dalam sektor rempah-rempah dan hasil alam tropis yang perlu digarap lebih serius melalui kemitraan dengan KBRI serta jaringan luar negeri.
“Kita sedang berupaya menghubungkan desa-desa dengan KBRI dan negara-negara yang membutuhkan produk seperti cengkeh, kayu manis, vanili, dan daun salam. Produk ini berbasis masyarakat, bukan industri besar, tapi punya potensi besar di pasar global,” jelasnya.
Politisi PKS asal Riau itu juga mengingatkan bahwa Indonesia seharusnya belajar dari sejarah, ketika kekayaan rempah-rempah menjadi daya tarik dunia.
“Dulu Indonesia dijajah karena rempah-rempah, tapi sekarang justru sektor itu kurang mendapat perhatian. Padahal negara-negara Eropa semakin membutuhkan bahan alami untuk pangan dan obat-obatan. Kita negara tropis, tanah subur, bisa tanam sepanjang tahun. Ini aset besar yang harus dioptimalkan,” ujarnya.
Syahrul Aidi berharap pemerintah memberi perhatian lebih terhadap pemerataan akses digital dan pemberdayaan ekonomi berbasis potensi lokal agar desa-desa Indonesia tidak hanya maju, tetapi juga mampu bersaing di pasar global.















