Jakarta, PR Politik (10/12) – Cuaca ekstrem memberikan dampak nyata bagi peningkatan bencana hidrometeorologis di berbagai wilayah Indonesia. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) diminta untuk gencar menggunakan teknologi modifikasi cuaca guna meminimalkan potensi banjir dan longsor di daerah-daerah rentan.
“Teknologi modifikasi cuaca sangat penting untuk mitigasi bencana, terutama dalam menghadapi ancaman hujan ekstrem di musim penghujan. Ini adalah langkah nyata yang harus didukung oleh semua pihak, termasuk pemerintah daerah dan masyarakat,” ujar Anggota Komisi V DPR RI dari Fraksi PKB, Sudjatmiko, pada Senin (9/12/2024).
Dia menjelaskan bahwa hujan dengan intensitas tinggi dapat memicu berbagai bahaya hidrometeorologis. Selain banjir bandang, hujan ini juga berpotensi menyebabkan tanah longsor hingga pergerakan tanah di wilayah-wilayah rawan. “Teknologi modifikasi cuaca adalah salah satu upaya inovatif yang dapat menyelamatkan banyak wilayah dari potensi kerugian lebih besar akibat bencana hidrometeorologi,” katanya.
Sudjatmiko juga menegaskan bahwa selain upaya teknis, sinergi lintas lembaga perlu diperkuat untuk memastikan program ini berjalan efektif. “BMKG, BPPT, dan TNI AU harus bekerja sama dengan pemerintah daerah agar dampak bencana dapat diminimalkan. Tidak hanya fokus pada TMC, tetapi juga edukasi kepada masyarakat terkait pencegahan dan penanggulangan bencana,” tambahnya.
Baca juga: Ahmad Muzani dan Lestari Moerdijat Kunjungi Kesunanan Surakarta untuk Dialog Pelestarian Budaya
Hingga kini, program Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) telah dilakukan di beberapa wilayah prioritas seperti Jabodetabek, Jawa Tengah, dan Kalimantan Selatan. Operasi ini bertujuan untuk mengalihkan hujan ke kawasan yang lebih aman dan mengurangi intensitas curah hujan di daerah perkotaan yang rawan banjir.
Menurut BMKG, musim penghujan tahun ini diperkirakan berlangsung lebih lama dengan curah hujan di atas rata-rata di beberapa wilayah. Sudjatmiko meminta pemerintah pusat segera memastikan alokasi anggaran yang cukup untuk mendukung keberlanjutan program ini. “Kita tidak bisa hanya reaktif setelah bencana terjadi. Perencanaan anggaran untuk mitigasi bencana seperti TMC harus menjadi prioritas. Jangan sampai infrastruktur rusak parah dan korban jiwa terus bertambah karena kurangnya antisipasi,” tegas Sudjatmiko.
Ia juga mengapresiasi kinerja BMKG yang terus memberikan peringatan dini terkait cuaca ekstrem. “Langkah ini membuktikan bahwa kita bisa beradaptasi dengan teknologi untuk mengurangi risiko bencana. Namun, masyarakat juga harus waspada dan patuh pada instruksi pemerintah,” tutupnya.
Sumber: fraksipkb.com















