Jakarta, PR Politik (15/11) – Ketua DPR RI, Puan Maharani, mendesak Pemerintah untuk memperhatikan kebutuhan pendidikan anak-anak pengungsi akibat erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki di Flores Timur, NTT. Selain keselamatan masyarakat, Puan juga menekankan pentingnya menjaga pendidikan bagi anak-anak yang terkena dampak bencana serta mempertimbangkan dampaknya terhadap sektor pariwisata di sekitar wilayah tersebut, seperti Labuan Bajo di Manggarai Barat, NTT.
“Dalam kondisi bencana, anak-anak dan perempuan termasuk kelompok rentan yang harus diperhatikan. Maka penting agar Pemerintah memberi perhatian lebih, terutama agar anak-anak yang terdampak erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki tetap bisa belajar,” kata Puan dalam keterangannya, Kamis (14/11/2024).
Sebanyak 42 sekolah dan sekitar 4.600 siswa terdampak langsung erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki. Pemerintah telah menyediakan 11 satuan pendidikan sebagai tempat pengungsian di wilayah Kecamatan Titehena. Namun, ini berdampak pada layanan pendidikan 1.189 siswa dan 108 guru yang sekolahnya digunakan untuk tempat pengungsian. Puan mengimbau Pemerintah untuk menyediakan alternatif tempat belajar bagi siswa-siswa ini agar hak pendidikan mereka tetap terjamin.
“Anak-anak ini masuk dalam kelompok rentan yang terancam kehilangan haknya seperti pendidikan dan bermain. Pemerintah perlu memastikan agar hak pendidikan mereka tetap terpenuhi meski dalam situasi bencana,” tambah Puan.
Baca Juga: Tingginya Angka Kecelakaan Tol, Danang Wicaksana Soroti Faktor Pengemudi dan Infrastruktur
Pemerintah Kabupaten Flores Timur telah meminta seluruh sekolah di daerah yang tidak terlalu terdampak erupsi untuk menerima siswa-siswa pengungsi. Selain itu, Puan menyarankan agar disiapkan kelas darurat di pengungsian, termasuk menyediakan tenaga pendidik agar anak-anak tetap dapat belajar dan tidak ketinggalan pelajaran.
“Maksimalkan kelas atau sekolah darurat di pengungsian, dan siapkan tenaga pendidik untuk membantu anak-anak di sana tetap bersekolah agar tidak ketinggalan pelajaran,” ujarnya.
Puan juga menegaskan bahwa administrasi seperti seragam sekolah sebaiknya tidak menjadi beban bagi anak-anak pengungsi. “Dalam situasi ini, sekolah darurat sangat diperlukan, tetapi kesampingkan dahulu urusan administrasi yang mempersulit,” tegas mantan Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan tersebut.
Sebagai dukungan bagi anak-anak pengungsi, Puan meminta Pemerintah untuk menyediakan fasilitas belajar seperti buku, pensil, dan alat mewarnai. Ia juga mengusulkan agar pembelajaran dapat dikombinasikan dengan kegiatan trauma healing untuk mengurangi dampak psikologis akibat bencana.
“Bantuan berupa alat tulis dan perlengkapan belajar lainnya sangat dibutuhkan agar anak-anak tetap mendapatkan hak belajarnya meski di pengungsian,” ujar Puan. “Pembelajaran juga bisa dilakukan bersamaan dengan kegiatan trauma healing, misalnya melalui hiburan edukatif yang dapat memulihkan semangat anak-anak di tengah kondisi sulit,” lanjutnya.
Selain itu, Puan menyoroti kebutuhan evakuasi wisatawan yang terjebak di daerah terdampak, seperti Labuan Bajo, yang kesulitan keluar karena pembatalan penerbangan. Ia meminta Pemerintah bekerja sama dengan pihak terkait untuk menyediakan kapal sebagai alternatif evakuasi bagi wisatawan.
“Pemerintah perlu bekerja sama dengan pihak terkait untuk membantu wisatawan yang hendak keluar dari wilayah terdampak. Siapkan kapal-kapal untuk mengangkut mereka, mengingat saat ini jalur laut masih memungkinkan,” ungkapnya.
Sumber: dpr.go.id















