Politik di Era Digital: Antara Tegasnya Prabowo dan Santainya Admin Gerindra

Interaksi admin akun Instagram Gerindra dengan netizen (akun TikTok Gerindra)

PR Politik – Di tengah ketegasan yang kerap melekat pada sosok Presiden Prabowo Subianto, akun media sosial partai Gerindra muncul dengan gaya yang jauh berbeda.

Sosok admin yang misterius dan jenaka berhasil menampilkan wajah baru politik—yang segar, ringan, dan penuh canda.

Positioning dan sikap yang kontradiksi ternyata tidak selamanya kontraproduktif. Media sosial membantu menciptakan lingkungan sosial dan kolektivitas sosial baru. Mereka menyediakan jaringan komunikasi dan interaksi (Chadwick dan May 2003).

Admin Gerindra tidak hanya menyuguhkan informasi, tapi juga menghibur dan menyentuh sensitifitas publik di setiap interaksinya.

Tak ayal, gaya ini mencuri perhatian publik, seolah menyuntikkan napas segar dalam percakapan politik di media sosial yang biasanya cenderung serius dan berjarak. Bahkan menjadi bahan perbincangan di media sosial, hingga di angkat media arus utama.

Bukan kali ini saja institusi formal menampilkan interaksi akrab lewat media sosial. Serupa tapi tak sama, sosok “Airmin”, admin akun Twitter TNI AU, telah lebih dulu melangkah sebagai perintis.

Airmin hadir sejak 2012 dengan gaya santai, menyajikan informasi sambil menghibur dengan gaya humoris, membangun kedekatan tanpa menghilangkan unsur resmi.

Strategi ini, yang berani menyeimbangkan sisi formal dengan humor, memang bukan tanpa risiko. Beberapa lembaga lainnya mencoba gaya serupa, tapi dampaknya justru negatif.

Tantangan media sosial tidak sekadar soal hadir atau tidaknya sebuah institusi, tetapi juga soal penyampaian yang tepat di waktu yang tepat.

Salah satu contohnya adalah Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang pada 2019 sempat menjadi sorotan karena mengunggah cuitan yang tidak jelas hanya bertuliskan “Jhttps:/jj.”

Kasus ini menyoroti pentingnya ketelitian dan ketepatan dalam berkomunikasi, terlebih saat menjadi wajah resmi suatu lembaga.

Demikian pula Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang sempat dikecam publik karena mengunggah pertanyaan “Ada yang merasakan gempa?” sesaat setelah gempa di Cianjur.

Alih-alih memberikan informasi terkini, BNPB malah dianggap menimbulkan keresahan, menunjukkan bagaimana kehumasan digital yang kurang tepat bisa berbalik menjadi bumerang bagi institusi.

Dari sini, terlihat bahwa pendekatan humor dan informal pada akun resmi butuh strategi matang.

Baca Juga: PR Politik Jadi Humas Pemerintah: Antara Profesionalisme dan Konflik Kepentingan

Interaksi digital, ruang publik interakti

Kesuksesan admin Gerindra mengelola persepsi publik, memberi penegasan bahwa di era digital citra dan reputasi institusi bukan hanya terbentuk dari keputusan politik atau aksi nyata, tetapi juga dari interaksi kecil dan respons cepat yang terkesan “receh”, tapi bermakna.

Baca Juga:  PR Politik Jadi Humas Pemerintah: Antara Profesionalisme dan Konflik Kepentingan

Publik menginginkan pendekatan ringan dan keseharian, tak hanya saat bercanda, tetapi juga ketika ada momen krisis, di mana admin dituntut lebih peka dan sigap.

Ini menunjukkan bahwa pendekatan ringan bukan hanya sekadar hiburan, tetapi strategi efektif untuk menjalin kedekatan.

Saat humor dikelola dengan bijak, ia tak hanya menjadi bumbu dalam komunikasi, tapi juga bisa menjadi kekuatan untuk mempererat hubungan antara publik dan lembaga, serta mengubah politik menjadi lebih asyik—tanpa kehilangan esensinya.

Gaya komunikasi admin Gerindra di media sosial adalah contoh dari positioning yang cermat dan terukur. Tidak hanya tampil menghibur, akun ini secara konsisten menyajikan konten yang sejalan dengan dinamika keseharian dan aspirasi warganet.

Kita akan menemukan prinsip dasar Admin Gerindra yang sering kali terabaikan oleh banyak kolega mereka: interaksi dan respons.

Di dunia politik digital, banyak admin partai atau content creator politik terjebak dalam upaya mengisi feed, reels, dan shorts untuk masuk ke dalam For You Page (FYP) atau menjadi viral. Berlomba membuat konten yang memancing perhatian dengan gaya sensasional dan menarik banyak views.

Sesungguhnya, admin Gerindra tidak mengandalkan konten yang terlalu rumit dalam feed utama mereka, tetapi lebih memaksimalkan interaksi di kolom komentar.

Di sana, mereka menggali lebih dalam, bercanda, dan merespons dengan cerdas, menciptakan dialog yang dekat dengan audiens.

Kekuatan konten tentang Prabowo dijadikan batu loncatan untuk masuk ke ruang-ruang publik, membuka peluang bagi tanggapan yang cenderung positif dari warganet.

Admin Gerindra, dengan strategi cerdasnya, telah memanfaatkan “celah” ini, yakni interaksi langsung dengan netizen (two way communications) melalui komentar dan tanggapan, yang selama ini sering diabaikan.

Mereka lebih memilih untuk menggali lebih dalam melalui percakapan santai, bercanda, dan merespons dengan cara yang lebih personal.

Selain itu, akun Gerindra berhasil memindahkan diskusi politik ke ranah obrolan sehari-hari yang lebih ringan, sehingga mengubah konten politik menjadi bagian dari percakapan harian yang relatable.

Pendekatan ini membuat politik terasa lebih akrab dan menghibur, memungkinkan publik untuk terlibat tanpa merasa terbebani dengan narasi politik yang terlalu formal.

Baca Juga:  Politik yang Tersiar: Saat Lobbying Tak Lagi Diam-diam

Baca Juga: Masa Depan Humas di Era Artificial Intelligence (AI) : Peluang, Tantangan, & Etika

Memahami keunikan netizen

Dalam perspektif teori “Looking Glass Self,” yang dikembangkan oleh Charles Horton Cooley, admin Gerindra telah melihat media sosial sebagai cermin yang menangkap ekspektasi, reaksi, dan persepsi masyarakat.

Teori ini menggarisbawahi bahwa konsep diri kita tidak hanya dibentuk melalui introspeksi, tetapi juga melalui interaksi sosial berkelanjutan—di mana diri kita terbentuk dari umpan balik dan penilaian orang lain.

Menurut The Sprout Social Index 2023, sebanyak 51 persen konsumen yang disurvei mengatakan bahwa merek yang paling berkesan di media sosial adalah yang merespons pelanggan.

Hal ini sejalan dengan konteks politik, di mana pemilih juga lebih cenderung mengingat dan merasa terhubung dengan partai atau tokoh politik yang aktif merespons dan berinteraksi dengan mereka.

Tidak mengherankan respons yang cepat dan relevan dapat meningkatkan loyalitas serta kepuasan, baik di dunia pemasaran maupun dalam politik.

Sprout Social juga menegaskan bahwa media sosial adalah tentang melibatkan dan berinteraksi dengan audiens.

Artinya, ketika pengikut atau pemilih meninggalkan komentar di media sosial—baik berupa pertanyaan, keluhan, atau pujian—admin harus merespons secepat mungkin untuk menunjukkan apresiasi dan membangun hubungan yang lebih dekat.

Namun, setiap jejaring sosial memiliki karakteristik dan demografis penggunanya yang unik, dan tidak semua komentar, seperti trolling atau komentar negatif tanpa dasar, perlu mendapatkan respons.

Memahami cara berinteraksi dengan audiens di berbagai platform sosial dan menanggapi beragam jenis komentar dengan bijak sangat penting untuk strategi komunikasi sosial yang sukses, baik dalam konteks pemasaran maupun politik.

Menurut Sprout Pulse Survey Q4 2023 yang melibatkan 1.623 konsumen, 65 persen pelanggan menghubungi merek di media sosial dengan pertanyaan tentang produk dan layanan sebelum melakukan pembelian.

Lebih lanjut, 68 persen pelanggan mengikuti merek di media sosial untuk tetap mendapat informasi tentang produk dan layanan baru, sementara 46 persen lainnya mencari penawaran eksklusif dan promosi.

Oleh karena itu, merespons pertanyaan dengan cermat dan memberikan jawaban relevan dapat berujung pada konversi yang lebih baik dalam konteks pemasaran maupun politik.

Komentar positif tentu terasa menyenangkan dan memberi kesempatan untuk lebih meningkatkan reputasi merek atau citra politik.

Baca Juga:  Paradoks Visibilitas Politisi di Tengah Bencana

Dan meskipun tidak ada yang suka dengan komentar negatif, komentar tersebut memiliki potensi untuk memberi wawasan mendalam mengenai strategi merek atau kampanye politik, sehingga dapat memprioritaskan area yang perlu diperbaiki untuk meningkatkan kepuasan pemilih atau masyarakat.

Begitu pula, merespons komentar netral adalah cara yang baik untuk memberi tahu pelanggan atau pemilih bahwa mendengarkan dan memahami kebutuhan mereka akan membantu membangun kedekatan dan merawat komunitas pendukung.

Komentar di media sosial bisa berfluktuasi antara emosi positif dan negatif, tapi tidak bisa mengabaikan keduanya karena sangat penting untuk konversi.

Cara merespons dapat memengaruhi keputusan potensial mereka. Komentar-komentar ini juga sangat penting untuk melacak sentimen terhadap merek atau kampanye politik, sehingga bisa mengetahui bagaimana audiens atau pemilih memandang citra dan kebijakan yang bawa.

Strategi ringan bertemu tanggung jawab

Meski pendekatan admin Gerindra ini menyenangkan dan inovatif, kita harus ingat bahwa politik bukan hanya tentang menciptakan citra yang akrab dan menghibur.

Politik adalah tentang perubahan kebijakan, perebutan kekuasaan, dan pengambilan keputusan yang dapat memengaruhi kehidupan banyak orang.

Interaksi menarik dan respons cepat memang penting dalam membangun hubungan, tapi esensi politik seharusnya tidak tertutupi oleh interaksi yang terlalu santai atau hanya sekadar enak dilihat.

Kita harus waspada terhadap potensi efek samping dari interaksi semacam ini, terutama jika itu digunakan untuk menghindari diskusi serius atau mengalihkan perhatian dari isu-isu yang sesungguhnya.

Hal ini bisa berbahaya jika sampai membuat publik terjebak dalam kenyamanan semu yang menutupi kenyataan yang lebih penting dan substansial.

Lebih parah lagi, jika gaya komunikasi ringan dan santai mulai mengelabui publik, membuat mereka ter-injeksi dengan narasi yang melenakan, seolah-olah politik hanyalah tentang hiburan semata, bukan tentang pilihan-pilihan penting yang berdampak langsung pada kehidupan mereka.

Dengan kata lain, meskipun strategi media sosial yang diterapkan oleh admin Gerindra bisa menjadi contoh sukses dalam menciptakan kedekatan, kita harus tetap ingat bahwa politik memiliki tanggung jawab lebih besar.

Oleh karena itu, interaksi dan respons tidak boleh menjadi alat untuk menghindari isu-isu substansial, tetapi harus menjadi sarana memperkaya dialog dan membawa publik lebih dekat pada pemahaman lebih dalam tentang kebijakan dan keputusan yang akan diambil.

 

Penulis: Heryadi Silvianto

 

Sumber: kompas.com

Berita Terbaru

Artikel Lainnya

Infografis Terbaru