Jakarta, PR Politik – Komite Olimpiade Indonesia (NOC Indonesia) menyatakan dukungan penuh terhadap langkah tegas Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir dalam menangani kasus dugaan pelecehan seksual dan kekerasan fisik di Pemusatan Latihan Nasional (Pelatnas) cabang olahraga panjat tebing. NOC Indonesia mendesak agar proses investigasi internal oleh Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) berjalan objektif dan memberikan sanksi berat jika terbukti terjadi pelanggaran.
Ketua Umum NOC Indonesia, Raja Sapta Oktohari, menegaskan bahwa segala bentuk intimidasi dan kekerasan tidak memiliki tempat di dunia olahraga, terutama di lingkungan pelatnas yang seharusnya menjadi ruang aman bagi para atlet.
“Saya begitu prihatin mendengar kasus dugaan pelecehan seksual dan kekerasan fisik terhadap atlet panjat tebing ini terjadi di pelatnas. NOC Indonesia mendukung penuh komitmen dan langkah cepat Menpora Erick Thohir untuk memastikan kasus ini diusut secara obyektif, transparan, profesional, dan berkeadilan. Lingkungan pelatnas harus menjadi ruang yang aman bagi seluruh atlet untuk berkembang dan berprestasi. Atlet harus merasa terjamin keamanannya, dihormati dan dilindungi,” tegasnya di Jakarta, Rabu (4/3).
Sebagai bentuk komitmen nyata, NOC Indonesia mengawal proses investigasi yang tengah berlangsung melalui unit khusus bernama Safeguarding Task Force. Program ini telah diimplementasikan sejak tahun 2024 sebagai langkah sistematis untuk menjamin hak atlet dalam berlatih di lingkungan yang inklusif dan bebas ancaman.
Okto menjelaskan bahwa kebijakan ini merupakan tanggung jawab institusional demi menjaga integritas olahraga nasional. NOC Indonesia juga telah mengirimkan surat resmi kepada seluruh federasi nasional anggota guna memastikan edukasi dan sosialisasi kebijakan perlindungan atlet ini berjalan konsisten di semua cabang olahraga.
NOC Indonesia terus melakukan koordinasi intensif dengan FPTI, Kemenpora, serta berbagai federasi nasional lainnya. Kasus ini dipandang sebagai momentum penting bagi seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat mekanisme pelaporan yang aman dan terpercaya bagi para atlet.
“Kami terus berkoordinasi secara intensif baik dengan FPTI, Kemenpora maupun federasi nasional berbagai cabor, karena kami tak kenal kompromi dalam menghadapi kasus dugaan kekerasan seksual seperti ini. Kasus ini menjadi pengingat bagi seluruh pemangku kepentingan olahraga untuk memperkuat sistem pencegahan, edukasi, serta mekanisme pelaporan yang aman dan terpercaya,” ujarnya menambahkan.
Pemerintah dan otoritas olahraga nasional berkomitmen untuk menciptakan ekosistem olahraga yang profesional dan bebas dari segala bentuk kekerasan, guna memastikan prestasi atlet Indonesia tidak terhambat oleh masalah keamanan personal di tempat latihan.
sumber : Kemenpora RI















