Balikpapan, PR Politik – Pemerintah memproyeksikan pengoperasian proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Kilang Balikpapan sebagai tonggak sejarah baru dalam mewujudkan kedaulatan energi nasional. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa peningkatan kapasitas kilang ini menjadi kunci utama bagi Indonesia untuk mengakhiri ketergantungan pada impor Bahan Bakar Minyak (BBM).
“Insyaa Allah begitu RDMP Kilang Balikpapan diresmikan pengoperasiannya mulai tahun ini, impor solar dihentikan. Hal ini dilakukan dalam rangka mendorong kedaulatan energi dengan tidak lagi mengandalkan pemenuhan kebutuhan BBM dalam negeri melalui impor,” ujar Bahlil sesaat sebelum peresmian di Balikpapan, Kalimantan Timur, Senin (12/1).
Bahlil memaparkan secara rinci kalkulasi pasokan energi nasional. Saat ini, kebutuhan solar Indonesia mencapai 39,8 juta kiloliter (kl) per tahun. Dengan dukungan program B40 yang menyumbang 15,9 juta kl Fatty Acid Methyl Ester (FAME), maka kebutuhan solar murni (B0) hanya tersisa 23,9 juta kl.
Mengingat produksi nasional telah menyentuh 26,5 juta kl, pemerintah optimis dapat menyetop seluruh impor solar (CN 48 dan CN 51) mulai pertengahan tahun 2026. Sementara untuk produk bensin, optimalisasi RDMP Balikpapan mampu meningkatkan produksi oktan tinggi hingga 5,8 juta kl per tahun, yang akan menekan impor RON 92, 95, dan 98 sebesar 3,6 juta kl.
“Ke depan, melalui penerapan E10 kita dapat menghemat impor hingga 3,9 juta kl per tahun, dan melalui pengembangan kilang selanjutnya kita dapat menyetop impor bensin RON 92, 95, dan 98 serta mengurangi impor bensin RON 90,” ungkap Bahlil.
Secara teknis, RDMP Balikpapan mengalami lonjakan kapasitas produksi yang signifikan dari 260 ribu barel menjadi 360 ribu barel minyak per hari. Peningkatan ini dimungkinkan berkat optimalisasi Crude Distillation Unit (CDU) serta unit Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) yang mampu mengolah residu menjadi produk bernilai tinggi.
Bahlil menekankan bahwa kilang ini kini menghasilkan produk berkualitas tinggi yang ramah lingkungan. “Yang (RDMP) sekarang kualitasnya sangat bagus sekali, sudah menuju setara dengan Euro 5, dan ini menuju kepada net zero emission,” tegasnya.
Proyek ini turut diperkuat dengan integrasi dua tangki penyimpanan raksasa di Lawe-lawe berkapasitas 2 juta barel serta Terminal BBM Tanjung Batu. Infrastruktur ini dipersiapkan untuk mengamankan distribusi BBM, khususnya bagi wilayah Indonesia bagian timur.
Bahlil menegaskan bahwa penguatan kilang adalah implementasi Pasal 33 UUD 1945, di mana negara wajib menguasai cabang produksi yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Melalui peningkatan kapasitas kilang, diversifikasi energi melalui biodiesel, dan menjaga keseimbangan supply-demand, pemerintah yakin kemandirian energi nasional bukan lagi sekadar impian.
sumber : ESDM RI















