Jakarta, PR Politik – Anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN), Slamet Ariyadi, mengecam keras serangan udara militer Israel yang terus menghantam wilayah Lebanon, termasuk ibu kota Beirut.
Ia mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk segera mengambil langkah konkret guna menghentikan agresi yang dinilai mengancam stabilitas keamanan global.
Menurut Slamet, perlindungan terhadap warga sipil dan infrastruktur vital harus menjadi prioritas utama sesuai dengan prinsip hukum humaniter internasional. Ia menilai serangan yang terjadi sejak Sabtu (11/4/2026) tidak hanya menimbulkan korban jiwa, tetapi juga memperburuk krisis kemanusiaan di kawasan tersebut.
“Atas nama masyarakat Indonesia, kami mengutuk keras serangan Israel ke Lebanon dan meminta PBB bertindak tegas untuk menghentikan serangan ini,” ujar Slamet kepada wartawan, Minggu (12/4/2026).
Ia juga mengingatkan bahwa jika agresi tersebut terus berlanjut tanpa intervensi diplomatik yang kuat, dampaknya dapat meluas dan berpotensi menghambat proses perdamaian di kawasan Timur Tengah.
“Apabila serangan ini terus berlanjut, maka dampaknya meluas ke ranah diplomatik dan menghambat proses perdamaian di Timur Tengah,” tambahnya.
Situasi di lapangan semakin memprihatinkan menyusul laporan terkait keselamatan pasukan penjaga perdamaian PBB yang tergabung dalam misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL). Indonesia sebelumnya telah mengambil langkah diplomatik dengan menginisiasi pernyataan bersama mengenai keselamatan dan keamanan pasukan penjaga perdamaian di Markas Besar PBB, New York.
Utusan Tetap Indonesia untuk PBB, Umar Hadi, menyampaikan duka mendalam sekaligus mengecam serangan terhadap personel perdamaian internasional.
“Kami mengutuk keras serangan terus-menerus terhadap UNIFIL, termasuk serangan serius terbaru yang merenggut nyawa tiga pasukan penjaga perdamaian Indonesia dan melukai beberapa pasukan penjaga perdamaian lain dari Prancis, Ghana, Indonesia, Nepal, dan Polandia,” tegas Umar Hadi.
Pernyataan bersama tersebut mendapat dukungan dari 72 negara serta Uni Eropa sebagai bentuk solidaritas internasional dalam menolak kekerasan terhadap misi kemanusiaan.
Slamet Ariyadi menegaskan bahwa komunitas internasional memiliki tanggung jawab kolektif untuk menekan Israel agar segera menghentikan operasi militernya di Lebanon.
“Komunitas internasional juga bertanggung jawab untuk mendesak Israel menghentikan serangan kepada Lebanon karena sangat berpotensi mengancam stabilitas kawasan,” pungkas Slamet Ariyadi.
Hingga saat ini, ketegangan di Beirut dan wilayah selatan Lebanon dilaporkan masih tinggi. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri terus memantau kondisi warga negara Indonesia (WNI) serta personel TNI yang bertugas dalam misi UNIFIL guna memastikan keselamatan mereka di tengah situasi yang terus berkembang.















