Manado, PR Politik – Indonesia secara proaktif mendorong penguatan kerja sama ekonomi biru melalui penyelenggaraan Diplomatic Visit pada 23–24 April 2026. Dengan memperkenalkan potensi kelautan dan pesisir Sulawesi Utara kepada para diplomat asing, kegiatan ini menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk memperluas kolaborasi internasional di sektor kelautan berkelanjutan.
Kegiatan ini merupakan hasil sinergi erat antara Kementerian Luar Negeri, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Sekretariat Regional Coral Triangle Initiative on Coral Reefs, Fisheries and Food Security (CTI-CFF), serta Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara.
Kunjungan ini diikuti oleh perwakilan diplomatik dari berbagai negara dan organisasi internasional, termasuk Duta Besar Kepulauan Solomon, Timor-Leste, dan Jerman. Selain itu, hadir pula diplomat dari Australia, Fiji, Filipina, Jepang, Malaysia, dan Papua Nugini, serta perwakilan badan PBB seperti UNDP, FAO, ILO, dan NGO internasional (WWF, GIZ, IUCN).
Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika (Aspasaf) Kementerian Luar Negeri, Duta Besar Santo Darmosumarto, menekankan pentingnya kemitraan global ini.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin membuka ruang kerja sama yang lebih konkret dengan para mitra internasional. Peran CTI-CFF juga strategis dalam menjembatani kolaborasi kawasan dan memperkuat pengelolaan sumber daya laut secara berkelanjutan,” ujarnya.
Pada 23 April 2026, para delegasi mengunjungi lokasi strategis di Bitung, termasuk Pelabuhan Perikanan Samudra dan unit pengolahan hasil laut berorientasi ekspor. Rombongan juga meninjau Desa Pasir Panjang di Pulau Lembeh untuk melihat konservasi terumbu karang berbasis masyarakat, serta melakukan penanaman bakau di kawasan ekowisata Desa Budo, Minahasa Utara.
Gubernur Sulawesi Utara, Yulius Selvanus, menyambut baik kepercayaan pemerintah pusat menjadikan daerahnya sebagai pusat diplomasi maritim.
“Kami bersyukur atas dipilihnya daerah Sulawesi Utara sebagai tempat kegiatan ini, karena kami dipercaya memiliki pengalaman baik dalam pengelolaan sumber daya maritim maupun potensi kerja sama ekonomi biru yang dapat ditawarkan,” katanya.
Duta Besar Jerman untuk Indonesia, Ralf Beste, mengapresiasi cara Indonesia mengintegrasikan aspek ekonomi dengan konservasi. Senada dengan itu, Direktur Eksekutif Sekretariat Regional CTI-CFF, Frank Keith Griffin, menilai kunjungan ini mempercepat implementasi Rencana Aksi Kawasan (RPOA 2.0).
Rangkaian kegiatan diakhiri dengan diskusi bertajuk “Untapping the Potentials for Cooperation on Blue Economy” pada Jumat (24/4/2026). Sebelumnya, sebagai pembuka, telah digelar kuliah umum di Universitas Sam Ratulangi pada 22 April guna memperkuat pelibatan akademisi dalam ekosistem ekonomi biru Indonesia.
sumber : Kemlu RI















