Jakarta, PR Politik – Anggota Komisi XII DPR RI Fraksi Partai Demokrat, Sartono Hutomo, meminta proyek Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) atau waste to energy (WtE) Cipeucang, Kota Tangerang Selatan, yang digarap PT Maharaksa Biru Energi Tbk (OASA) bersama PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI), memperhatikan aspek integrasi dan penguatan industri nasional.
Sartono menekankan pentingnya integrasi proyek yang dijalankan OASA dan BIPI dengan perusahaan holding bentukan Danantara Indonesia, PT Daya Energi Bersih Nusantara (PT Denera), yang juga memiliki mandat pengembangan proyek WtE secara nasional.
Hal itu disampaikan merespons proyek WtE Cipeucang senilai Rp2,6 triliun yang akan dikerjakan melalui skema Build-Operate-Transfer (BOT) selama 30 tahun oleh PT Indoplas Energi Hijau (IPE) bekerja sama dengan mitra China Tianying.
“Pada dasarnya perkembangan proyek seperti PSEL Tangsel (OASA–BIPI) menunjukkan model market-driven yang sudah bankable. Namun, perlu diperhatikan bahwa saat ini Danantara juga memiliki proyek WtE yang baru saja digagas, kehadiran Danantara melalui PT Denera sebagai national aggregator memunculkan kebutuhan integrasi,” jelas Sartono di Jakarta, Selasa, 14 April 2026.
Ia menilai, langkah konsolidasi ke dalam ekosistem Danantara menjadi penting untuk memastikan efisiensi dan arah pengembangan industri WtE nasional tidak berjalan terfragmentasi.
“Proyek WtE yang digagas OASA-BIPI ini sebenarnya adalah hal yang cemerlang karena bisa mendukung upaya ketahanan energi dan pengelolaan sampah yang baik. Tapi cermati ke depan apakah proyek existing akan dikonsolidasikan ke dalam ekosistem Danantara untuk efisiensi nasional, atau dibiarkan fragmented,” bebernya.
Selain itu, Sartono juga menyoroti dominasi mitra asing, khususnya dari China, dalam pengembangan proyek WtE. Ia mengingatkan agar keterlibatan pihak luar tidak menimbulkan ketergantungan teknologi bagi Indonesia.
“Sementara Danantara berambisi menskalakan proyek secara nasional. Nah di sini kuncinya bagaimana skema konkret transfer teknologi yang diwajibkan agar Indonesia tidak hanya menjadi operator pasar tetapi juga membangun kapasitas industri WtE domestik,” imbuh Sartono.
Ia berharap, sinergi antara sektor swasta dan negara dapat berjalan beriringan dalam pengembangan industri PSEL atau WtE, sehingga tercipta ekosistem yang sehat dan kompetitif.
“Intinya Indonesia saat ini juga sedang membangun industri baru waste-to-energy (WtE) sebagai sektor infrastruktur strategis nasional. Bagaimana proyek ini bisa berjalan beriringan di mana kehadiran swasta dan negara di saat bersamaan dapat memberikan iklim persaingan sehat pada sektor industri ini dengan tetap memiliki goals yang sama yakni mendorong ketahanan energi,” tandasnya.
Sebelumnya, PT Maharaksa Biru Energi Tbk (OASA) bersama PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI) memastikan akan menggarap proyek PSEL Cipeucang di Kota Tangerang Selatan. Proyek ini dijalankan melalui entitas PT Indoplas Energi Hijau (IPE).
Direktur & Corporate Secretary OASA, Chandra Devikemalawaty, menyampaikan bahwa perseroan melalui PT Indoplast Energi Makmur telah menjual 20 persen saham IPE kepada BIPI dengan nilai transaksi Rp500 juta.
“Penjualan dan pengalihan saham dilakukan berdasarkan Akta Pernyataan Keputusan Rapat Nomor 6 tanggal 6 April 2026,” katanya dalam keterbukaan informasi, Rabu, 8 April 2026.















