Tokyo, PR Politik – Presiden RI Prabowo Subianto melakukan kunjungan resmi perdana ke Jepang dengan agenda penguatan hubungan bilateral di level tertinggi. Rangkaian kunjungan ini diawali dengan pertemuan kehormatan bersama Kaisar Jepang di Imperial Palace pada 30 Maret 2026, yang dilanjutkan dengan pertemuan bilateral tingkat tinggi bersama Perdana Menteri (PM) Takaichi Sanae di Akasaka Palace pada 31 Maret 2026.
Di tengah ketidakpastian global dan konflik di Timur Tengah, kedua pemimpin sepakat memperkokoh Kemitraan Strategis Komprehensif. Sebagai mitra dagang terbesar ke-4 dan investor ke-5 bagi Indonesia, Jepang tetap menjadi pilar strategis utama Indonesia di kawasan selama 68 tahun terakhir.
Salah satu terobosan besar dalam kunjungan ini adalah kesepakatan kerja sama pertama di bidang energi nuklir guna mendukung rantai pasok energi masa depan di Indonesia. Selain itu, kedua negara berkomitmen mengoptimalkan pengelolaan mineral kritis seperti nikel, bauksit, dan pasir kuarsa.
Melalui skema Asia Zero Emission Community (AZEC), terdapat 175 proyek transisi energi yang terus didorong, termasuk proyek strategis PLTSa Legok Nangka serta PLTP Muara Laboh dan Sarulla. Presiden Prabowo juga menegaskan kesiapan Indonesia untuk menjadi basis relokasi industri Jepang, khususnya di bidang semikonduktor dan Artificial Intelligence (AI).
Penyelenggaraan Forum Bisnis oleh KADIN dan JETRO berhasil membukukan 10 kesepakatan bisnis senilai USD 23,6 miliar (sekitar Rp370 triliun), di mana USD 20,9 miliar merupakan reaktivasi investasi di bidang energi yang sempat tertunda.
Di sektor keamanan, Jepang berkomitmen memperkuat kapasitas maritim Indonesia melalui pemberian hibah 4 unit kapal patroli senilai JPY 2,9 miliar melalui program Official Security Assistance (OSA). Kerja sama ini juga mencakup revitalisasi forum maritim, pengembangan pulau terluar, serta dukungan terhadap program Kampung Nelayan Merah Putih.
Selain pengadaan peralatan, kedua negara sepakat meningkatkan intensitas dialog pertahanan, pertukaran personel, dan latihan militer bersama di berbagai level untuk menjaga stabilitas kawasan.
Hubungan antarmasyarakat juga mendapat perhatian khusus dengan peningkatan peluang kerja bagi Pekerja Migran Indonesia (PMI). Saat ini, lebih dari 180 ribu PMI telah berkontribusi di berbagai sektor industri di Jepang. Di sektor pariwisata, kedua negara menargetkan peningkatan arus wisatawan setelah mencapai angka 1 juta pertukaran pada tahun 2025.
Menariknya, diplomasi kali ini juga menyentuh aspek konservasi melalui kesepakatan pembiakan Komodo yang nantinya akan dirawat di fasilitas kebun binatang di Shizuoka sebagai simbol persahabatan dan kerja sama pelestarian satwa liar.
Menutup pertemuan tersebut, Presiden Prabowo dan PM Takaichi menegaskan visi bersama untuk menciptakan kawasan Indo-Pasifik yang terbuka, stabil, dan inklusif. Terkait ketegangan di Timur Tengah, kedua pemimpin menyuarakan pentingnya jalur diplomasi.
“Indonesia dan Jepang menekankan diplomasi dan dialog sebagai cara untuk mengurangi ketegangan yang saat ini terjadi di kawasan Timur Tengah,” demikian bunyi poin kesepakatan kedua pemimpin yang menegaskan peran aktif kedua negara dalam perdamaian internasional.
sumber : Kemlu RI















