Jakarta, PR Politik – Aktivitas konsumsi masyarakat yang meningkat selama Ramadan menjadi motor penggerak stabilitas ekonomi nasional, terutama melalui penguatan usaha mikro dan kecil. Merespons momentum tersebut, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) resmi membuka Bazaar Lebaran 2026 sebagai langkah strategis memenuhi kebutuhan pokok masyarakat sekaligus mempromosikan produk industri domestik.
Kegiatan yang berlangsung pada 10–13 Maret 2026 di Plasa Pameran Industri Kemenperin, Jakarta, ini menghadirkan sinergi antara pemerintah dan dunia usaha dalam menjaga ketersediaan barang konsumsi dengan harga terjangkau.
“Penyelenggaraan Bazaar Lebaran merupakan agenda rutin yang tidak hanya bertujuan menyediakan kebutuhan pokok dengan harga terjangkau, tetapi juga menjadi sarana promosi bagi produk industri nasional, khususnya sektor agro dan barang konsumsi,” ujarnya saat pembukaan acara, Selasa (10/3).
Sektor industri agro kembali membuktikan perannya sebagai kontributor utama ekonomi. Pada tahun 2025, sektor ini menyumbang 52,09 persen terhadap PDB industri nonmigas dan 9,00 persen terhadap PDB nasional. Dengan nilai ekspor mencapai USD 78,77 miliar, industri agro berhasil mencatatkan surplus neraca dagang sebesar USD 57,58 miliar.
Investasi di sektor ini juga tetap bergairah dengan realisasi mencapai Rp191,7 triliun pada 2025, yang mampu menyerap hingga 10 juta tenaga kerja. Memasuki tahun 2026, optimisme pelaku industri tercermin dari Indeks Kepercayaan Industri (IKI) yang berada di level ekspansi 54,02.
Pemerintah terus mendorong kebijakan hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah komoditas unggulan seperti kakao, sagu, dan kelapa menjadi produk farmasi, kosmetik, hingga bioenergi melalui pendekatan klaster wilayah.
Menghadapi lonjakan permintaan Ramadan, industri makanan dan minuman nasional telah meningkatkan utilisasi pabriknya secara signifikan.
“Industri makanan dan minuman dalam negeri telah meningkatkan kapasitas produksi untuk mengantisipasi lonjakan permintaan selama Ramadan dan Idul Fitri. Saat ini tingkat utilisasi industri makanan dan minuman berada pada kisaran 70–80 persen, lebih tinggi dibandingkan rata-rata utilisasi normal sekitar 60 persen,” jelasnya.
Bazaar tahun ini diikuti oleh 80 peserta yang mencakup skala industri besar hingga UMKM. Ragam produk yang ditawarkan sangat luas, mulai dari bahan pokok seperti minyak goreng dan gula, hingga produk gaya hidup seperti batik, kerajinan kulit, dan busana muslim.
Plt. Direktur Jenderal Industri Agro, Putu Juli Ardika, menyampaikan apresiasinya kepada seluruh pemangku kepentingan yang mendukung kelancaran distribusi barang selama periode hari raya. Melalui kegiatan ini, pemerintah berharap dapat membangun kolaborasi yang lebih erat serta meningkatkan kecintaan masyarakat terhadap produk buatan Indonesia.
“Kegiatan ini juga menjadi momentum untuk mempererat kebersamaan antara pemerintah, pelaku industri, dan masyarakat. Selain memberikan manfaat ekonomi, kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kecintaan terhadap produk dalam negeri,” pungkasnya.
sumber : Kemenperin RI















