Kemendikdasmen Dorong Integrasi Literasi dan Vokasi Pangan, Sambut Bahasa Indonesia Sebagai Bahasa Resmi UNESCO

Jakarta, PR Politik – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mendorong integrasi antara literasi dan pendidikan vokasi untuk memperkuat ekosistem pangan nasional yang berkelanjutan. Kolaborasi lintas unit kerja ini melibatkan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Badan Pangan Nasional, serta dunia usaha dan dunia industri (DUDI), dengan menghadirkan para kepala sekolah SMK percontohan dan guru vokasi. Gelar Wicara ini diselenggarakan di Graha Lantai 3, Kemendikdasmen, Jakarta, pada Selasa (14/10).

Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Hafidz Muksin, memaparkan bahwa Badan Bahasa berperan strategis dalam mengembangkan dan memartabatkan bahasa Indonesia serta memperkuat budaya literasi masyarakat.

“Literasi tidak sekadar kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga memaknai. Bahasa Indonesia yang baik dan benar menuntun kita pada cara berpikir yang logis dan berpengetahuan,” ungkap Hafidz.

Ia juga menyampaikan kabar membanggakan bahwa bahasa Indonesia kini telah diakui sebagai bahasa resmi dalam Sidang Umum UNESCO. “Alhamdulillah, tahun ini bahasa Indonesia akan untuk pertama kalinya dikumandangkan dalam sidang umum UNESCO. Ini kebanggaan dan momentum penting bagi bangsa Indonesia,” ujarnya.

Badan Bahasa terus berinovasi melalui penyempurnaan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), penerapan Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD), dan pelaksanaan Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI). Hafidz menjelaskan, UKBI kini menjadi instrumen penting karena setiap guru dalam program SMK Pusat Keunggulan (PK) diwajibkan memiliki sertifikat UKBI.

“Dengan UKBI, kita dapat memastikan guru dan siswa memiliki kemampuan komunikasi yang baik, yang menjadi dasar dalam berpikir kritis dan produktif,” tutur Hafidz.

Direktur Penganekaragaman dan Konsumsi Pangan Badan Pangan Nasional, Rinna Syawal, menekankan pentingnya literasi pangan bagi generasi muda di era transformasi industri pangan. “Kita semua sejak lahir sudah makan, tapi belum tentu memahami makna dari pangan itu sendiri. Literasi pangan penting agar kita tidak sekadar makan, tetapi juga memahami manfaat dan nilai dari apa yang kita konsumsi,” tutur Rinna.

Baca Juga:  Presiden Prabowo Panggil Menteri Rosan, Bahas Evaluasi & Asesmen BUMN

Rinna menyoroti bahwa pola konsumsi Gen Z dan Gen Alpha cenderung mengonsumsi makanan tinggi gula, garam, dan lemak, yang kini memunculkan kasus diabetes dan obesitas pada anak usia 10 hingga 14 tahun.

Sementara itu, Direktur PT Banjarnegara Agro Mandiri, Trisila Juwantara, sebagai pelaku industri, menyampaikan pentingnya sinergi antara industri dan lembaga pendidikan.

“Kami sudah lama bermitra dengan SMK untuk mendukung pembelajaran berbasis industri. Melalui teaching factory, siswa tidak hanya belajar teori, tapi juga praktik langsung mengolah produk lokal seperti nanas atau salak menjadi produk olahan bernilai jual tinggi. Kuncinya adalah keterhubungan antara pendidikan dan pasar,” jelas Trisila Juwantara.

Acara ditutup dengan pameran karya siswa SMK di bidang kuliner dan pengolahan pangan. Hafidz Muksin berharap integrasi ini menjadi gerakan nasional untuk menyiapkan generasi muda yang literat, terampil, dan mandiri guna mewujudkan kedaulatan pangan.

 

sumber : Kemendikdasmen RI

Bagikan:

Berita Terbaru

Artikel Lainnya

Infografis Terbaru