Forum CITES CoP20: Indonesia Dorong Tata Kelola Konservasi Berbasis Sains dan Pembiayaan Inovatif

Samarkand, PR Politik – Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES CoP20) yang diselenggarakan di bawah United Nations Development Program (UNDP), Perserikatan Bangsa-Bangsa, dibuka pada 5 Desember 2025 bertempat di Expo Center, Silk Road Tourist Complex, Samarkand, Uzbekistan. Indonesia menjadi negara yang paling gigih mendukung inisiatif global dalam menjaga keragaman hayati (bio-diversity).

Indonesia, yang masuk dalam empat negara dengan mega diversity bersama Brazil, China, dan Columbia, menghadapi kekhawatiran kepunahan spesies akibat perburuan dan eksploitasi berlebihan, seperti hiu Pelagis, penyu sisik, penyu belimbing, serta flora bernilai ekspor tinggi seperti pohon damar, cendana, dan rotan. Oleh sebab itu, Indonesia mendukung penuh regulasi perdagangan internasional untuk menyelamatkan spesies dari kepunahan dan memerangi perdagangan satwa liar ilegal.

Duta Besar RI untuk Uzbekistan, Siti Ruhaini Dzuhayatin, menyoroti keseriusan Indonesia dalam forum ini.

“pengiriman delegasi Indonesia secara lintas kementerian dan lembaga serta keikutsertaan para pengamat dan aktifis lingkungan menunjukkan kesungguhan Indonesia sebagai, satu dari empat negara dengan bio-diversity terbesar didunia, guna melindungi keaneka-ragaman flora dan fauna yang sangat luas serta kegigihan melestarikan dan menjaga dari kepunahan karena berbagai pemanfaatan dan perburuan yang berlebihan,” ujarnya.

Delegasi Indonesia yang dikirim bersifat lengkap dan komprehensif, terdiri dari Kementerian Luar Negeri, Kementerian Kehutanan, Kementerian Kelautan, serta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sebagai National Focal Point.

Koordinator National Focal Point Indonesia dan juga Direktor Jenderal Sumber Daya Alam dan Konservasi Ekologi, Setyawan Pudyatmoko, menegaskan bahwa keanekaragaman hayati merupakan fondasi kesehatan planet dan CITES harus menjaga keseimbangan antara perlindungan spesies dan pemanfaatan berkelanjutan yang mendukung masyarakat.

Baca Juga:  Kemendes dan Lemhanas Kolaborasi Perkuat Pembangunan, Mendes: Kunci Pembangunan Nasional Ada di Desa

Sebagai negara mega-biodiversitas, Indonesia mendorong tata kelola berbasis sains dan pembiayaan inovatif, termasuk melalui skema SDG Bond, Green Bond, Blue Bond, serta Coral Reef Bond . Indonesia juga telah meluncurkan Indonesia Biodiversity Fund (IBioFund) untuk memperkuat konservasi, restorasi habitat, dan kapasitas masyarakat.

Melalui regulasi yang lebih kuat, pendanaan yang memadai, dan kolaborasi multipihak, Indonesia berkomitmen menjadikan konservasi sebagai pendorong kesejahteraan. Komitmen ini juga ditunjukkan dengan penyelenggaraan tiga side events selama konferensi, bekerja sama dengan CITES, Birdlife Internasional, Pemerintah Filipina, dan Mandai Nature.

Konferensi internasional ini merupakan yang pertama kali diselenggarakan di negara Asia Tengah, Uzbekistan. Utusan Khusus Presiden Uzbekistan bidang Lingkungan, Ekologi dan Perubahan Iklim, Mr. Aziz Abdukhakimov, menegaskan pentingnya peran Asia Tengah dalam CITES CoP20 untuk perlindungan flora dan fauna serta pergerakan binatang dan burung bermigrasi lintas batas negara.

sumber : Kemlu RI

Bagikan:

Berita Terbaru

Artikel Lainnya

Infografis Terbaru