Edhie Baskoro Yudhoyono: Bonus Demografi Harus Dibarengi dengan Pertumbuhan Kesehatan Lingkungan

Anggota Komisi XII DPR RI, Edhie Baskoro Yudhoyono (Tengah) | Foto: Istimewa

Jakarta, PR Politik (17/12) – Anggota Komisi XII DPR RI, Edhie Baskoro Yudhoyono, menekankan pentingnya menjaga lingkungan sebagai warisan terbesar bagi generasi mendatang. Ia menyatakan bahwa bonus demografi Indonesia harus diimbangi dengan pertumbuhan kesehatan lingkungan yang berkelanjutan.

Dalam acara Focus Group Discussion (FGD) bertema “Pentingnya Kehidupan Berkelanjutan: Gaya Hidup Ramah Lingkungan untuk Masa Depan” yang berlangsung di Ruang Rapat Fraksi Partai Demokrat DPR RI pada Kamis (12/12/2024), Ibas, sapaan akrabnya, menjelaskan bahwa bonus demografi juga membawa tantangan berupa peningkatan jumlah sampah, sehingga diperlukan pengelolaan sampah yang terpadu.

“Bonus demografi berarti kita butuh lebih banyak energi, sehingga perlu penggunaan energi terbarukan. Ini bukan berarti energi fosil tidak digunakan, tetapi kita harus beralih ke sumber energi yang lebih ramah lingkungan. Selain itu, bonus demografi juga berarti kita butuh lebih banyak makanan, yang memerlukan pengembangan pertanian berkelanjutan,” jelas Ibas dalam keterangan tertulis kepada Parlementaria.

Acara FGD ini menghadirkan sejumlah narasumber, termasuk Prof. Arif Sumantri, Ketua Umum Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (PP HAKLI); Ananda Setiyo Ivannanto, President Director PT AWINA Sinergi Internasional; dan Yayu Gandis Canceria, Project Manager Plastic Fischer.

“Hari ini kita bersilaturahim sekaligus bertukar ide, pikiran, dan solusi dalam forum diskusi mengenai kesehatan dan lingkungan, dua hal yang sangat penting untuk kehidupan,” ujar Ibas.

Baca Juga: Ahmad Sahroni Desak Penangkapan Pengeroyok Bocah 12 Tahun di Boyolali

“Sebagai pihak yang peduli terhadap isu kesehatan lingkungan, saya mengajak para narasumber dan peserta untuk mendiskusikan solusi terbaik dalam menghadapi tantangan ini,” ungkap Ibas.

Salah satu solusi yang diusulkan Ibas adalah perlunya pengelolaan sampah terpadu. “Bonus demografi berarti adanya bonus sampah. Kita perlu membahas pentingnya mengurangi, menggunakan, dan mendaur ulang sampah, serta memberikan peran masyarakat dalam mengelola limbah secara sistematis dan tepat sasaran. Konsep Refuse (menolak), Reduce (mengurangi), Recycle (mendaur ulang), Reuse (memakai kembali), Remanufacture (memproduksi ulang), dan Repurpose (mengganti tujuan) harus kita pikirkan bersama,” paparnya.

Solusi kedua yang disampaikan Ibas adalah penggunaan energi terbarukan. “Kita perlu lebih banyak energi, dan energi baru terbarukan (EBT) bisa menjadi solusi. Diskusi mengenai transisi dari energi fosil ke energi terbarukan seperti hidro, angin, dan listrik sangat penting. Meskipun bukan berarti energi fosil tidak digunakan, investasi dalam infrastruktur hijau perlu lebih dikembangkan,” lanjutnya.

Baca Juga: PKB Usulkan Gus Dur Sebagai Pahlawan Nasional

Ibas juga menekankan pentingnya pengembangan pertanian berkelanjutan. “Bonus demografi berarti kita butuh lebih banyak makanan. Penting bagi kita untuk memilih produk pertanian yang ramah lingkungan, mendukung pertanian organik, dan mengurangi konsumsi daging untuk mengurangi jejak karbon,” katanya.

Selain itu, Ibas menyoroti perlunya penggunaan transportasi ramah lingkungan. “Pengurangan penggunaan kendaraan pribadi dengan beralih ke transportasi umum, sepeda, atau kendaraan listrik bisa menjadi alternatif solusi,” ujarnya.

Terakhir, Ibas menekankan pentingnya strategi untuk meningkatkan kesadaran generasi Z tentang gaya hidup berkelanjutan melalui pendidikan, kampanye sosial, dan media. “Ini sangat dibutuhkan untuk menciptakan kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan,” tutupnya.

 

Sumber: fraksidemokrat.org

Berita Terbaru

Artikel Lainnya

Infografis Terbaru