Jakarta, PR Politik – Wakil Ketua Badan Legislasi (Baleg) DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Ahmad Doli Kurnia, menyampaikan keprihatinannya atas bentrokan antarpendukung pasangan calon (paslon) dalam Pilkada Puncak Jaya, Papua Pegunungan. Bentrokan yang berlangsung sejak 27 November 2024 hingga 4 April 2025 tersebut telah menewaskan 12 orang dan melukai 653 orang lainnya.
“Tentu kita semua sangat prihatin. Pilkada seharusnya menjadi media konsolidasi pembangunan suatu daerah, bukan justru menjadi ajang baku fisik dan perpecahan,” ujar Doli kepada wartawan, Senin (7/4/2025).
Doli menegaskan bahwa peristiwa tragis ini harus menjadi bahan evaluasi terhadap pelaksanaan Pilkada langsung. Ia membuka kemungkinan untuk mempertimbangkan alternatif sistem pemilihan kepala daerah jika kekerasan terus terjadi dalam setiap pelaksanaan pesta demokrasi daerah.
“Bila kejadian serupa tidak bisa dihindarkan dan menjadi semakin meluas, maka patut dipertimbangkan alternatif lain cara pemilihan kepala daerah kita ke depan,” tambahnya.
Sebagai langkah konkret, Doli mendesak Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk segera memanggil kedua pasangan calon, yakni paslon nomor urut 1 Yuni Wonda-Mus Kogoya dan paslon nomor urut 2 Miren Kogoya-Mendi Wonerengga, bersama dengan tim inti masing-masing, guna melakukan rekonsiliasi.
“KPU harus berkoordinasi dengan pihak kepolisian untuk memanggil kedua pasangan calon dan membuat kesepakatan bersama agar bisa mengendalikan para pendukung mereka. Kedua paslon harus ikut merasa bertanggung jawab atas situasi buruk seperti ini,” tegas anggota Komisi II DPR RI itu.
Lebih lanjut, Doli meminta keterlibatan aktif pemerintah pusat, dalam hal ini Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), untuk turun langsung menangani persoalan dan memastikan stabilitas keamanan di wilayah tersebut.
“Kemendagri harus melibatkan pemerintah provinsi dan kabupaten serta aparat penegak hukum agar situasi bisa segera dikendalikan dan kembali kondusif,” ujarnya.
Sebagaimana disampaikan oleh Kepala Operasi Damai Cartenz, Brigjen Faizal Ramadhani, bentrokan yang terjadi antara dua kubu pendukung pasangan calon tersebut menyebabkan 12 orang meninggal dunia. Dari total korban luka, 423 berasal dari pendukung paslon 01 dan 230 dari kubu paslon 02.
Ahmad Doli menutup pernyataannya dengan ajakan kepada seluruh pihak agar menjadikan momentum Pilkada sebagai sarana demokrasi yang sehat dan damai.
“Jangan biarkan demokrasi kita dikotori oleh kekerasan. Mari jadikan Pilkada sebagai ruang pemersatu bangsa,” pungkasnya.















