Momentum Harkitnas, PKS Gelar Pelatihan Guna Cetak Perempuan Penggerak Ekonomi Keluarga

Jakarta, PR Politik – Partai Keadilan Sejahtera (PKS) melalui Bidang Perempuan dan Keluarga yang berkolaborasi dengan Bidang Pemberdayaan UMKM dan Ekonomi Kreatif menggelar kegiatan Training for Trainer Kebangkitan Ekonomi Keluarga Pilar Kebangkitan Nasional. Agenda strategis tersebut dipusatkan di Kantor DPTP PKS, Jakarta, Rabu (20/5).

Ketua DPP PKS Bidang Perempuan dan Keluarga, Eko Yulliarti Siroj, menegaskan bahwa penguatan ketahanan finansial di level rumah tangga merupakan fondasi fundamental bagi kebangkitan makroekonomi bangsa. Menurutnya, pemilihan tema tersebut memiliki korelasi historis yang kuat karena dilaksanakan bertepatan dengan momentum Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas).

“Hari ini kita mengangkat tema kebangkitan ekonomi keluarga sebagai pilar kebangkitan nasional. Momentum Hari Kebangkitan Nasional ini menjadi pengingat bahwa kebangkitan bangsa juga lahir dari keluarga-keluarga yang kuat secara ekonomi,” ujarnya dalam pidato sambutannya.

Ia memaparkan fakta logis bahwa sektor konsumsi rumah tangga sejauh ini masih bertindak sebagai penopang utama dan terbesar bagi struktur perekonomian nasional, dengan persentase kontribusi menembus angka 60 hingga 65 persen. Realitas data inilah yang menempatkan figur perempuan atau kaum ibu pada posisi geopolitik dan ekonomi yang sangat strategis.

“Kalau kita melihat data, konsumsi rumah tangga menjadi penyumbang terbesar ekonomi nasional. Artinya, jika ibu-ibu tidak berbelanja selama seminggu saja, maka perekonomian nasional bisa terganggu,” urainya secara lugas.

Pergeseran sosiologis hari ini memperlihatkan bahwa peran perempuan telah melompat jauh. Mereka tidak lagi sekadar menjadi pengelola domestik, melainkan aktif bertindak sebagai co-provider yang ikut menyokong stabilitas keuangan dapur.

“Kalau ibu-ibu bergerak di bidang ekonomi, bukan hanya dirinya yang terbantu, tetapi seluruh keluarganya ikut terselamatkan,” tambahnya.

Guna memperkuat urgensi program pemberdayaan ini, Eko menyitir data resmi Kementerian Sosial yang merekam jumlah unit Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Indonesia pada tahun 2025 telah menyentuh angka fantastis, yakni sekitar 65,5 juta unit usaha. Sektor padat karya ini terbukti menjadi penyelamat stabilitas sosial karena mampu menyerap hingga 97 persen dari total tenaga kerja nasional.

Baca Juga:  Dari Barak Marinir ke Panggung Politik, Ferry Irawan Bidik 1 Kursi DPR RI untuk Perindo Sultra

Di sisi lain, PKS juga menangkap adanya sinyalemen positif dari tingginya atensi generasi muda, khususnya Gen Z, terhadap isu-isu ketersediaan peluang kerja baru serta pengembangan ekosistem kewirausahaan (entrepreneurship).

“Ternyata Gen Z juga sangat menyukai isu tentang peluang kerja. Ini menjadi titik temu antara kebutuhan generasi muda dengan program-program pemberdayaan yang dilakukan PKS,” jelasnya.

Menutup pemaparannya, Eko memastikan bahwa program pembekalan ini didesain secara berkelanjutan melalui skema penguatan kapasitas modal insani yang adaptif. PKS bersiap menggeber rangkaian program edukasi lanjutan yang difokuskan pada digitalisasi bisnis UMKM guna mendukung kebangkitan ekonomi keluarga mandiri.

“Ke depan akan ada pelatihan-pelatihan lanjutan tentang bagaimana membangun usaha di dunia digital sebagai upaya membangkitkan ekonomi keluarga yang pada akhirnya menjadi penunjang ekonomi nasional,” pungkasnya.

sumber : PKS

Berita Terbaru

Artikel Lainnya

Infografis Terbaru