Jakarta, PR Politik – Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot secara resmi meluncurkan Global Hydrogen Ecosystem Summit (GHES) 2026 di Jakarta, Selasa (10/2). Dalam seremoni tersebut, Yuliot menegaskan posisi vital hidrogen sebagai pembawa energi nol karbon yang akan menjadi motor penggerak utama transisi energi nasional dari fosil menuju energi terbarukan.
Langkah ini merupakan bagian dari strategi besar pemerintah untuk mencapai target Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060 atau lebih awal, sebagaimana arahan Presiden RI Prabowo Subianto.
“Pemerintah Indonesia tetap berkomitmen terhadap upaya mitigasi perubahan iklim. Dalam jangka panjang, Indonesia menargetkan pengurangan porsi pemanfaatan energi fosil secara bertahap sebagai bagian dari pencapaian Net Zero Emission pada tahun 2060 atau lebih cepat. Salah upayanya adalah menetapkan hidrogen dan amonia sebagai Sumber Energi Baru,” ujarnya.
Saat ini, konsumsi hidrogen domestik mencapai 1,75 juta ton per tahun, yang mayoritas masih digunakan sebagai bahan baku industri pupuk (88% untuk urea) dan kilang minyak. Namun, ke depan, pemerintah membidik pemanfaatan hidrogen untuk sektor-sektor yang sulit didekarbonisasi (hard-to-abate sectors).
Yuliot optimistis Indonesia dapat menjadi pusat (hub) hidrogen dan amonia di kawasan Asia Pasifik berkat melimpahnya potensi Energi Baru Terbarukan (EBT) dan posisi geografis yang strategis di jalur perdagangan dunia.
“Peluang tersebut ditopang oleh modal dasar yang kuat, antara lain ketersediaan potensi energi baru dan terbarukan (EBT) yang melimpah, komitmen Indonesia terhadap mitigasi perubahan iklim global, serta posisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan yang berada pada jalur utama perdagangan internasional. Dengan keunggulan tersebut, Indonesia berpotensi menjadi hub hidrogen dan amonia di kawasan Asia Pasifik,” tuturnya.
Menyertai peluncuran GHES 2026, Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), Eniya Listiani Dewi, mengungkapkan bahwa Kementerian ESDM telah merampungkan National Hydrogen Roadmap. Ia menegaskan adanya target kinerja baru yang ambisius untuk tahun ini.
“Dan di tahun 2026 ini KPI dari EBTKE bertambah satu lagi yaitu mengenai pencapaian hidrogen hijau yang kita harapkan makin bertambah seiring dengan rencana umum energi nasional kita. Jadi kita harapkan penambahan hidrogen hijau yang diagendakan 2026 ini harus mencapai lebih dari 199 ton per tahun,” jelasnya.
Peluncuran GHES 2026 diharapkan menjadi katalisator koordinasi antara pemerintah dan industri guna mempercepat adopsi teknologi hidrogen hijau di tanah air.
sumber : ESDM RI















