Jakarta, PR Politik – Kementerian Pertanian (Kementan) mengambil langkah proaktif pada awal tahun 2026 dengan mempercepat penguatan infrastruktur irigasi guna mengantisipasi curah hujan tinggi dan menjaga stabilitas produksi beras nasional. Langkah ini mencakup penguatan tata kelola air, mulai dari perbaikan jaringan irigasi hingga sistem drainase di berbagai sentra pangan Indonesia.
Sebagai bagian dari strategi Triwulan I Tahun 2026, pemerintah juga mengonfirmasi percepatan program Cetak Sawah Rakyat (CSR). Program ini menggunakan skema fasilitas percepatan konstruksi (RPATA) untuk mengejar target pembangunan sawah baru di 20 provinsi.
Direktur Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian (Ditjen LIP), Hermanto, menegaskan pentingnya sinergi lintas sektoral dalam menghadapi dinamika iklim yang tidak menentu.
“Kami ingin memastikan dukungan lintas sektor berjalan optimal sehingga target konstruksi cetak sawah tahun 2025 di 20 provinsi dapat terealisasi,” ujarnya dalam koordinasi teknis bersama Kementerian Pekerjaan Umum (PU) dan BMKG di Jakarta, Selasa (2/2).
Berdasarkan prakiraan BMKG, tahun 2026 akan diwarnai curah hujan tahunan berkisar 1.500–4.000 mm. Direktur Layanan Iklim Terapan BMKG, Marjuki, memaparkan adanya variasi tren curah hujan yang menuntut kewaspadaan tinggi pada periode Februari hingga Maret 2026.
“Penurunan signifikan terjadi di sebagian Sumatra, Jawa, dan Nusa Tenggara, sementara peningkatan curah hujan terjadi di sebagian Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Pada Februari hingga Maret 2026, curah hujan bulanan secara umum diprediksi berada pada kategori menengah hingga tinggi, dengan potensi hujan sangat tinggi di sebagian Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, serta sebagian kecil Papua Tengah,” jelasnya.
Informasi iklim ini menjadi basis ilmiah bagi Kementan dalam mengatur pola tanam dan mengelola tata air lahan agar risiko banjir akibat hujan lebat berdurasi singkat dapat ditekan secara maksimal.
Kementerian Pekerjaan Umum turut andil dalam meningkatkan keandalan jaringan irigasi, khususnya pada wilayah Daerah Irigasi (DI) dan Daerah Irigasi Rawa (DIR). Plt. Direktur Irigasi dan Rawa Kemenpu, Yosiandi Radi Wicaksono, menyebutkan intervensi difokuskan pada pembangunan serta rehabilitasi jaringan primer, sekunder, hingga tersier.
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa pengelolaan air yang presisi adalah kunci utama untuk mengubah tantangan cuaca menjadi peluang produktivitas.
“Curah hujan yang tinggi harus kita kelola sebagai berkah. Melalui penguatan irigasi, perbaikan drainase, dan tata air lahan yang tepat, produksi padi tetap dapat terjaga dan bahkan ditingkatkan,” ujarnya.
Ia memastikan negara akan terus mendampingi petani guna menjamin keamanan pangan nasional di tengah ancaman cuaca ekstrem. “Negara hadir melindungi petani dan memastikan keberlanjutan pertanian nasional sebagai bagian dari upaya menjaga ketahanan pangan dan kesejahteraan petani,” tegasnya.
sumber : Kementan RI















