Bekasi, PR Politik – Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) menyatakan duka mendalam atas wafatnya seorang siswa sekolah dasar (SD) berusia 10 tahun di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). Korban diduga mengakhiri hidupnya akibat tekanan ekonomi keluarga yang tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar sekolah seperti buku dan pena.
Gus Ipul menegaskan bahwa pihaknya telah menerjunkan tim ke lokasi untuk melakukan asesmen menyeluruh terhadap keluarga korban yang merupakan keluarga prasejahtera dengan ibu tunggal sebagai tulang punggung.
“Pertama tentu kita prihatin, tentu kita ikut berbuka. Tim kita juga sedang berada di sana (Ngada) untuk melakukan asesmen,” ujarnya usai menghadiri acara di Bekasi, Rabu (4/2).
Mensos menekankan bahwa peristiwa memilukan ini menjadi alarm keras bagi pentingnya penguatan data kemiskinan yang akurat. Melalui Inpres Nomor 5/2025 tentang Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN), pemerintah berupaya mengintegrasikan informasi agar bantuan dapat menjangkau kelompok paling rentan yang selama ini “tidak terlihat” oleh sistem.
“Dengan data yang akurat, semuanya bisa diberi perlindungan dan diberikan dukungan yang tepat. Jadi mudah-mudahan tidak terjadi lagi dan bisa kita mitigasi, kita bisa cegah hal-hal seperti ini ke depan,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa program seperti “Sekolah Rakyat” dirancang khusus untuk memutus rantai kemiskinan bagi anak-anak dari latar belakang serupa.
Sebagai bentuk respons cepat, Kementerian Sosial melalui Sentra Efata Kupang telah menyalurkan bantuan total senilai Rp9 juta kepada keluarga korban. Bantuan tersebut meliputi santunan uang tunai Rp5 juta, serta paket sembako, nutrisi, dan sandang senilai Rp4 juta.
Pemerintah juga berkomitmen memastikan masa depan pendidikan anggota keluarga yang ditinggalkan agar tidak mengalami hambatan serupa.
“Sekarang (petugas Kemensos) ada di lapangan, lagi bicara kita sama orang tuanya dan masih berduka. Ada kakaknya yang akan kita coba untuk bisa bersekolah. Apakah di sekolah-sekolah yang dekat sana atau nanti di Sekolah Rakyat. Masih sedang asesmen di lapangan,” pungkasnya.
Kejadian ini menyita perhatian publik setelah ditemukan surat perpisahan korban kepada ibunya, yang bekerja keras sebagai petani serabutan untuk menghidupi lima orang anak. Kemensos memastikan akan terus mengawal pemulihan trauma dan dukungan ekonomi bagi keluarga ini secara berkelanjutan.
sumber : Kemensos RI















