Ngada, PR Politik – Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) meluncurkan program Kebun Pangan Perempuan sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan keluarga, melestarikan kuliner lokal, serta meningkatkan pemenuhan gizi bagi anak-anak di desa.
Peluncuran perdana dilakukan di Desa Turetogo, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Jumat (31/10). Program ini dikerjakan bekerja sama dengan Yayasan Bambu Lingkungan Lestari (YBLL) dan AMATI Indonesia, serta melibatkan kelompok perempuan dari tujuh kabupaten di Flores.
Wakil Menteri PPPA, Veronica Tan, menegaskan bahwa perempuan memiliki peran sentral dalam pengetahuan pangan dan keberlanjutan keluarga.
“Tujuan utama kita ada tiga yaitu melestarikan tanaman lokal, melestarikan kuliner lokal, dan memastikan tersedianya pangan segar yang berkualitas bagi anak-anak. Kebun Pangan Perempuan merupakan langkah nyata pemberdayaan perempuan di tingkat desa,” ujarnya.
Ngada ditargetkan menjadi kabupaten pertama yang memproduksi bahan pangan segar melalui kelompok perempuan, menyuplai makanan bergizi bagi siswa sekolah dasar, dan menguatkan penanganan stunting berbasis komunitas.
Asisten Perekonomian Kabupaten Ngada, Nicolaus Noywuli, mendukung program ini sebagai strategi mengatasi inflasi pangan. “Inflasi di Ngada sangat dipengaruhi harga pangan. Kita membutuhkan pasokan sayur, buah, telur, dan beras yang stabil dan aman. Kebun Pangan Perempuan adalah langkah strategis untuk memperkuat produksi rumah tangga sekaligus meningkatkan gizi masyarakat,” ujar Noywuli.
Sebagai tindak lanjut, model kebun serupa akan dikembangkan di Desa Wogo, dilengkapi pelatihan intensif, penggunaan media edukasi, dan penerapan metode Permakultur yang mudah diadaptasi oleh keluarga. Edukasi juga akan diperluas melalui School TV di tujuh kabupaten dari Labuan Bajo hingga Sikka.
Wamen PPPA menegaskan bahwa percepatan hanya mungkin terjadi bila pemerintah dan masyarakat belajar bersama di lapangan. “Kita tidak bisa bekerja lambat. Teori harus berjalan bersama praktik. Pemerintah daerah, desa, universitas, dan masyarakat perlu bergerak cepat untuk mencontoh dan memperluas model ini,” tegasnya.
Program ini menekankan koordinasi pentahelix (pemerintah, desa, akademisi, komunitas, dunia usaha, dan media), serta pemanfaatan pangan lokal dan edukasi gizi anak berbasis konsumsi segar dari kebun.
Wamen PPPA mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk memperluas Kebun Pangan Perempuan di NTT dan wilayah lain.
“Jika pangan untuk kita berasal dari kita sendiri, ketahanan pangan akan semakin kuat dan perempuan akan semakin berdaya,” tutup Wamen PPPA.
sumber : Kemenpppa RI















