Jakarta, PR Politik – Pemerintah Indonesia terus mengakselerasi pembangunan infrastruktur minyak dan gas bumi (migas) strategis guna memperkuat ketahanan energi nasional. Sebagai langkah nyata, Rusia secara resmi menyatakan minatnya untuk berinvestasi dalam pembangunan kilang minyak dan fasilitas penyimpanan (storage) di tanah air.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa kerja sama ini merupakan instruksi langsung dari Presiden Prabowo Subianto sebagai tindak lanjut hasil pertemuannya dengan Presiden Vladimir Putin.
“Ya, kemarin seperti yang saya sampaikan di istana bahwa atas arahan Bapak Presiden, saya diminta untuk menindaklanjuti pertemuan dari dua pemimpin, Presiden Prabowo sama Presiden Putin dan dalam pertemuan saya dengan Menteri Energi dan Pemerintahan Rusia itu telah disepakati bahwa kita akan mendapat support dari Rusia,” ujarnya kepada awak media di Kantor Kementerian ESDM, Jumat (17/4).
Saat ini, Indonesia menghadapi tantangan besar dalam pemenuhan energi primer. Konsumsi BBM nasional telah mencapai 1,6 juta barel per hari, sementara produksi domestik hanya mampu menyuplai sekitar 600 ribu barel per hari. Selisih 1 juta barel per hari tersebut hingga kini masih ditutup melalui mekanisme impor.
Bahlil memaparkan bahwa pemerintah memiliki strategi ganda untuk memangkas ketergantungan luar negeri tersebut, yakni melalui optimalisasi kilang domestik dan mandatori bahan bakar nabati.
“Sekarang Bensin itu kita impor, totalnya konsumsi kita kan hampir 39-40 juta kiloleter (KL). Dari situ produksi dalam negeri kita sebelum ada RDMP Balikpapan itu kan 14,3 juta KL. Penambahan RDMP Balikpapan itu kan 5,6-5,7 juta KL, jadi hampir 20 juta kiloliter, berarti impor kita tinggal 50 persen,” ungkapnya.
Terkait detail investasi Rusia, pemerintah tengah mematangkan skema kerja sama, baik melalui jalur government to government (G2G) maupun business to business (B2B). Bahlil menekankan bahwa proyek yang sedang dibahas ini berbeda dengan proyek Kilang Tuban (Pertamina-Rosneft) dan memiliki skala yang lebih spesifik.
“Itu salah satu poin yang kemarin kita bicarakan, bahwa memang ada beberapa investasi mereka yang sudah siap untuk masuk, tetapi finalisasinya tunggu ada 1-2 putaran lagi dengan kami, khusus untuk menyangkut dengan kilang dan storage. Nanti baru kami akan sampaikan,” jelasnya saat ditemui di Istana Negara, Kamis (16/4).
Pembangunan fasilitas penyimpanan tambahan dinilai sangat krusial sebagai penyangga (buffer) energi nasional. Dengan storage yang memadai, Indonesia diharapkan memiliki fleksibilitas lebih tinggi dalam menghadapi volatilitas harga minyak mentah dunia serta gangguan pasokan global yang kian dinamis.
sumber : ESDM RI















