Tantangan dan Peluang PR Politik di Era Digital, Kokok Herdhianto: Masa Depan akan Dihadapkan pada ‘Perang Teori’ dengan Generasi Melek Teknologi

Kokok Herdhianto Dirgantoro, Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Solidaritas Indonesia (PSI)

Jakarta, PR Politik – Kokok Herdhianto Dirgantoro, Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Solidaritas Indonesia (PSI), memprediksi bahwa Public Relations (PR) Politik ke depan akan menjadi “perang teori” yang menarik, terutama dalam menghadapi generasi muda yang semakin melek teknologi dan kritis terhadap informasi. Dalam wawancara eksklusif dengan PR Politik Indonesia pada Senin, 12 Maret 2025, Koko menjelaskan bagaimana PR Politik harus beradaptasi dengan perubahan zaman, terutama di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan akses informasi.

Kokok menyebut bahwa generasi muda saat ini, yang disebut sebagai digital native, memiliki akses informasi yang jauh lebih mudah dibandingkan generasi sebelumnya. Mereka tidak hanya melek teknologi, tetapi juga kritis dalam menyerap informasi.

“Generasi muda sekarang punya akses ke AI, informasi yang melimpah, dan ilmu yang lebih mudah didapat. Mereka akan memiliki sikap yang lebih terbentuk dan kritis terhadap politik,” ujar Kokok.

Ia mencontohkan anaknya yang masih berusia 12 tahun dan sudah mampu mengerjakan tugas sambil mendengarkan Spotify, bahkan mungkin di masa depan bisa mengelola beberapa layar sekaligus untuk bekerja dan memantau pasar saham.

“Ini adalah generasi yang berbeda. Mereka bisa multitasking dengan gadget, sementara saya saja pusing kalau harus lihat dua layar sekaligus,” candanya.

PR Politik Harus Beradaptasi dengan Perubahan Komunikasi

Menurut Kokok, ke depan terutama untuk tahun 2029 ke atas, PR Politik harus menggunakan pendekatan yang berbeda karena generasi muda akan menjadi pemilih pemula (first voter) dalam pemilu. Mereka tidak hanya menginginkan informasi, tetapi juga bukti nyata dan transparansi dari partai politik.

“Komunikasi politik ke depan tidak bisa lagi mengandalkan narasi lama. Kita harus bisa menyampaikan pesan dengan cara yang relevan untuk generasi ini,” tegasnya.

Baca Juga:  Gun Gun Heryanto: Gaya Koboi Purbaya, Antara Strategi Komunikasi dan Risiko Ekspektasi Publik

Koko juga menyoroti kemungkinan perubahan sistem pemilihan di masa depan, seperti e-voting (pemilihan elektronik). Meskipun ia menyambut baik kemajuan teknologi, ia menekankan pentingnya menjaga sistem multi-kanal agar hak politik semua lapisan masyarakat, termasuk generasi tua, tetap terjamin.

“E-voting mungkin akan menjadi masa depan, tetapi kita harus memastikan bahwa sistem ini tidak mengabaikan generasi tua yang mungkin belum familiar dengan teknologi. Multi-kanal harus tetap ada agar tidak ada hak politik yang hilang,” jelasnya.

Tantangan PR Politik di Era Digital

Koko mengakui bahwa tantangan terbesar PR Politik ke depan adalah menghadapi generasi yang semakin kritis dan melek teknologi. Partai politik harus mampu membangun narasi yang substantif, bukan sekadar viral, serta memberikan bukti nyata dari janji-janji yang disampaikan.

“PR Politik tidak bisa lagi hanya mengandalkan retorika. Generasi muda ingin melihat aksi nyata dan transparansi. Ini adalah tantangan sekaligus peluang bagi partai politik untuk membangun kepercayaan,” ujarnya.

Koko menyatakan bahwa PR Politik ke depan akan menjadi perang teori dan praktik. Partai politik harus mampu menggabungkan narasi yang kuat dengan bukti nyata di lapangan, sambil tetap adaptif terhadap perubahan teknologi dan kebutuhan generasi muda.

“PR Politik ke depan adalah tentang bagaimana kita bisa menyampaikan pesan dengan cara yang relevan, sambil tetap menjaga integritas dan transparansi. Ini adalah perang teori yang menarik untuk kita hadapi,” pungkasnya.

Berita Terbaru

Artikel Lainnya

Infografis Terbaru