Jakarta, PR Politik – Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Suahasil Nazara menyebut bahwa dinamika ketidakpastian global saat ini telah bergeser menjadi tantangan normal baru (new normal) yang wajib diantisipasi oleh negara-negara di kawasan Asia Tenggara. Oleh sebab itu, arsitektur stabilitas di regional ini harus diarsiteki secara aktif oleh seluruh negara anggota ASEAN, bukan sekadar menanti situasi membaik.
“Ketidakpastian akan menjadi normal baru kita di masa depan. Jadi, stabilitas atau kepastian itu tidak diberikan begitu saja kepada kita. Itu harus dibangun oleh kita sendiri,” ujarnya saat memberikan pemaparan dalam acara Seminar ASEAN Regional Economic Outlook and Fiscal Policy di Jakarta, Senin (25/5).
Dalam analisisnya, ia menyoroti kepungan berbagai tantangan global yang meliputi perang dagang, fragmentasi rantai pasok dunia, krisis perubahan iklim, hingga disrupsi teknologi gelombang baru seperti kecerdasan buatan (AI).
Guna membentengi Asia Tenggara, ia menawarkan strategi besar berupa penguatan penetrasi perdagangan intra-ASEAN, pemangkasan hambatan non-tarif (non-tariff barriers), serta akselerasi kerja sama di sektor ekonomi digital dan proyek transisi energi hijau.
Lebih lanjut, Suahasil menekankan pentingnya adopsi bauran kebijakan makroekonomi yang berhati-hati (prudent), peningkatan ketahanan pangan, serta kemandirian sektor energi. Langkah ini perlu diimbau pararel dengan optimalisasi kerja sama keuangan regional, seperti skema bantalan likuiditas Chiang Mai Initiative Multilateralization (CMIM) dan perluasan transaksi menggunakan mata uang lokal (local currency settlement).
Ia berharap ASEAN konsisten menjaga netralitas dan tidak terjebak masuk ke dalam pusaran salah satu blok geopolitik yang sedang berseteru. Sebaliknya, Asia Tenggara harus memosisikan diri sebagai wadah terbuka yang mampu merangkul berbagai poros kekuatan ekonomi global, mulai dari Amerika Serikat, China, India, Uni Eropa, hingga Jepang.
Guna mengegolkan visi tersebut, Kementerian Keuangan berkomitmen mempertebal sinergi regional melalui kolaborasi riset strategis. Kemenkeu akan menggandeng Dewan Ekonomi Nasional (DEN) serta ASEAN+3 Macroeconomic Research Office (AMRO) sebagai instrumen krusial dalam menelurkan draf kebijakan fiskal yang presisi.
Di hadapan delegasi regional, ia memamerkan draf capaian kinerja ekonomi domestik Indonesia yang sukses membukukan performa solid. Pada kuartal pertama tahun anggaran 2026, laju pertumbuhan ekonomi nasional melesat di angka 5,61 persen dengan tingkat inflasi yang sangat jinak di posisi 2,4 persen. Rapor hijau kombinasi pertumbuhan tinggi dan inflasi rendah ini berhasil diraih dengan defisit anggaran yang sehat di level 2,9 persen.
“Kombinasi pertumbuhan ekonomi 5,6% dengan inflasi 2,4% ini saya berani jamin menjadi sumber kecemburuan bagi banyak negara lain,” tegasnya membandingkan kondisi ekonomi Indonesia dengan tren global.
Menutup pemaparannya, ia menyitir tren pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam dua hingga tiga dekade terakhir yang konsisten bergerak di rerata 5 persen. Berangkat dari basis data historis tersebut, target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen yang dicanangkan oleh pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dinilai sebagai draf target yang sangat krusial untuk dicapai.
Target tersebut optimistis dapat direalisasikan melalui instrumen peningkatan produktivitas industri hulu-hilir, masifnya pembangunan infrastruktur logistik, serta penguatan kapasitas modal insani demi mencetak lapangan kerja formal yang berkualitas bagi masyarakat.
sumber : Kemenkeu RI















