Jakarta, PR Politik – Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia bekerja sama dengan Delegasi Uni Eropa (UE) untuk Indonesia di Jakarta telah menyelenggarakan Dialog Lintas Agama dan Lintas Budaya (DLALB) RI–UE pada 26 November – 1 Desember 2025 di Jakarta dan Yogyakarta (5/12). Dialog ini menandai reaktivasi DLALB RI-UE yang pertama kali digelar pada tahun 2012, sekaligus tindak lanjut dari EU–Indonesia Human Rights Dialogue 2024.
DLALB dibuka secara resmi pada 27 November 2025 di Kantor Kementerian Luar Negeri, Jakarta, oleh Ani Nigeriawati, Direktur Diplomasi Publik mewakili Kementerian Luar Negeri sebagai Ketua Delegasi RI, serta Stéphane Mechati, Wakil Kepala Perwakilan Delegasi UE untuk Indonesia di Jakarta selaku Ketua Delegasi UE. Kegiatan ini sejalan dengan komitmen bersama kedua pihak terhadap penghormatan terhadap hak asasi manusia (HAM), nilai-nilai demokrasi, dan keberagaman dengan semangat “Unity in Diversity/Bhinneka Tunggal Ika”.
Mengusung tema Conference on Religion and Peaceful Coexistence, Role of Faith-Based Actors in Raising Awareness for the Protection of Environment, and Religion as a Vector for Gender Equality, dialog ini membahas tiga sub-tema utama: koeksistensi lintas agama yang damai, pelestarian lingkungan, dan promosi kesetaraan gender.
Ani Nigeriawati menekankan pentingnya agama dan budaya sebagai instrumen diplomasi soft power untuk menghadapi tantangan global.
“Agama dan kepercayaan adalah instrumen perdamaian, dan budaya adalah instrumen yang menghubungkan. Bersama-sama, keduanya menjadi aset diplomasi soft power yang memungkinkan kita membangun hubungan,” ujar Ani.
Ani juga menyoroti tantangan global seperti perubahan iklim, krisis energi, hingga pergeseran lanskap geopolitik, menegaskan bahwa dialog adalah kebutuhan.
“Tantangan ini mengingatkan bahwa tidak ada negara, komunitas, dan keyakinan yang dapat berdiri sendiri, melainkan perlu aksi kolaboratif untuk menghadapinya. Oleh karena itu dialog menjadi sebuah kebutuhan, bukan lagi sekadar kemewahan.”
Sementara itu, Stéphane Mechati menekankan bahwa pengalaman Indonesia dalam mempraktikkan toleransi dan keberagaman memberikan pelajaran berharga bagi komunitas global.
“Kami berharap dialog ini dapat membantu kita mengatasi prasangka, saling memahami lebih baik, serta memungkinkan para delegasi UE melihat langsung bagaimana Indonesia mempraktikkan toleransi dan keberagaman,” kata Mechati.
Selain di Jakarta, delegasi DLALB RI-UE juga berdiskusi dengan sejumlah akademisi serta pakar di bidang agama dan budaya di Yogyakarta, yang dituanrumahi oleh Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga pada 29 November 2025.
Selama di Indonesia, delegasi berkesempatan mengunjungi sejumlah rumah ibadah dan situs budaya di Jakarta dan Yogya, termasuk Masjid Istiqlal, Gereja Katedral, Candi Borobudur, dan Keraton Yogyakarta. Delegasi juga melakukan kunjungan kehormatan dan bertukar pikiran dengan Badan Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP) DPR RI mengenai isu toleransi beragama dan penguatan hubungan bilateral RI-UE.
sumber : Kemlu RI















