Pulihkan Akses Publik, Kemenhut Bersihkan Tumpukan Kayu Limbah Bencana di Aceh dan Sumatera

Banda Aceh, PR Politik – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) bergerak cepat melakukan operasi terpadu pembersihan material kayu sisa bencana banjir dan tanah longsor yang melanda sejumlah titik di Pulau Sumatera. Operasi serentak ini mencakup wilayah Aceh Tamiang, Aceh Utara, Sumatera Utara, hingga Sumatera Barat dengan melibatkan sinergi TNI-Polri, pemerintah daerah, serta elemen masyarakat.

Di Provinsi Aceh, fokus utama pembersihan menyasar fasilitas pendidikan dan rumah ibadah. Di kawasan Pesantren Darul Mukhlisin, Aceh Tamiang, tim gabungan yang mengerahkan 27 unit alat berat telah mencapai progres pembersihan sekitar 40 persen hingga Selasa (23/12).

Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL), Subhan, menjelaskan bahwa prioritas tim adalah mengembalikan fungsi area publik agar masyarakat bisa segera beraktivitas kembali.

“Selain menyingkirkan kayu dan material lumpur, kami juga fokus membersihkan ruang belajar dan area masjid agar aktivitas pendidikan dan ibadah dapat segera kembali berjalan,” ujar Subhan. Ia menambahkan bahwa normalisasi pintu air juga dilakukan guna mempercepat pengeringan lahan di sekitar pesantren dan pemukiman.

Di wilayah Langkahan, Aceh Utara, Kemenhut bersama masyarakat telah berhasil membuka akses jalan desa sepanjang lima kilometer yang sebelumnya tertutup material kayu. Pembersihan juga dilakukan secara intensif di SD Negeri 12 Langkahan agar kegiatan belajar mengajar tidak terhenti terlalu lama.

Sementara itu, di Sumatera Utara, aksi pembersihan tersebar di Desa Aek Ngadol, Desa Garoga, dan Desa Huta Godang. Selain menangani tumpukan kayu di jembatan, tim juga fokus pada normalisasi parit saluran air dan penataan kawasan pasar rakyat.

Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara, Novita Kusuma Wardani, menekankan pentingnya kolaborasi dengan warga lokal dalam percepatan evakuasi material sisa bencana ini.

Baca Juga:  Menteri ESDM Minta Genjot Produksi Migas, Sebut Perlu Langkah Inovatif

“Kami bekerja bersama masyarakat untuk memastikan akses vital dan fasilitas umum segera pulih, sehingga aktivitas ekonomi dan sosial warga bisa kembali normal,” tutur Novita.

Bergeser ke Sumatera Barat, penanganan difokuskan pada pembersihan material kayu sisa banjir yang terbawa hingga ke kawasan pantai Kota Padang. Sejak 20 hingga 23 Desember 2025, sepanjang 5,6 kilometer garis pantai ke arah utara berhasil dibersihkan dari tumpukan log kayu besar.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Barat, Hartono, mengungkapkan bahwa pembersihan dilakukan secara bertahap mengingat ukuran material kayu yang cukup besar dan berisiko.

“Kami memprioritaskan area yang paling terdampak dan ramai aktivitas masyarakat. Pembersihan akan dilanjutkan hingga kawasan muara Penjalinan agar kawasan pesisir kembali aman dan bersih,” jelas Hartono.

Kemenhut juga tengah mematangkan mekanisme pemanfaatan kayu limbah bencana tersebut melalui koordinasi dengan aparat penegak hukum dan pemerintah daerah. Langkah ini diambil untuk memastikan pemulihan lingkungan berjalan transparan, aman, dan berkelanjutan bagi kesejahteraan masyarakat terdampak.

sumber : Kemenhut RI

Bagikan: