Davos, PR Politik – Presiden Prabowo Subianto mengumumkan posisi Indonesia sebagai kekuatan baru pangan dunia dalam pidato kuncinya di World Economic Forum (WEF) Annual Meeting 2026, Kamis (22/1). Di hadapan para pemimpin global, Presiden menegaskan bahwa Indonesia telah berhasil mencapai swasembada beras dengan rekor produksi tertinggi dalam sejarah.
Keberhasilan ini melampaui ekspektasi awal, di mana target yang semula dipatok selama empat tahun ternyata mampu diraih hanya dalam waktu satu tahun kepemimpinan.
“Kami juga telah mencapai swasembada beras. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, produksi beras kami adalah yang tertinggi dalam sejarah Indonesia. Target swasembada yang saya tetapkan empat tahun, berhasil dicapai hanya dalam satu tahun,” ujarnya.
Berdasarkan data Kerangka Sampel Area (KSA) BPS, produksi beras sepanjang tahun 2025 diproyeksikan menembus 34,71 juta ton, atau melonjak 13,36 persen dari tahun sebelumnya. Kenaikan ini berdampak signifikan pada cadangan pangan nasional, di mana stok beras Bulog sempat menyentuh rekor tertinggi sebesar 4,2 juta ton pada Juni 2025.
Tak hanya beras, sektor jagung juga menunjukkan kemandirian dengan produksi mencapai 16,11 juta ton. Dengan surplus sebesar 0,46 juta ton, Indonesia tercatat tidak melakukan impor jagung pakan sepanjang tahun tersebut.
Pencapaian di sektor hulu ini berimbas pada angka makroekonomi dan kesejahteraan masyarakat desa. Nilai Tukar Petani (NTP) pada Desember 2025 mencatatkan angka 125,35, yang merupakan level tertinggi dalam 33 tahun terakhir. Sektor pertanian juga menjadi motor penggerak ekonomi dengan kontribusi PDB mencapai 14,35 persen pada Triwulan III-2025.
Dalam forum bergengsi tersebut, Presiden Prabowo juga memamerkan keberanian pemerintah dalam menyapu bersih hambatan birokrasi. Sebanyak 145 regulasi yang selama ini menghambat penyaluran pupuk bersubsidi telah disederhanakan demi efisiensi dan keadilan bagi petani.
“Kami telah menghapus ratusan regulasi yang tidak masuk akal, regulasi yang menghambat keadilan, yang menciptakan budaya korupsi. Ratusan regulasi telah kami hapus hanya dalam satu tahun,” tegasnya.
Presiden menegaskan bahwa swasembada beras hanyalah langkah awal dari visi besar Indonesia untuk menghapus kemiskinan dan kelaparan. Fokus berikutnya adalah mencapai kemandirian pada komoditas strategis lainnya dalam waktu dekat.
“Indonesia memiliki visi yang jelas untuk menyediakan kualitas hidup yang baik bagi warganya, hidup bebas dari kemiskinan dan kelaparan. Saya yakin bahwa dalam empat tahun ke depan kita akan swasembada untuk produk pangan lainnya: jagung, gula, dan protein,” pungkasnya.
Capaian ini memperkuat posisi tawar Indonesia di kancah internasional sebagai negara yang mandiri secara pangan di tengah ancaman perubahan iklim dan krisis global.
sumber : Kementan RI















