Jakarta, PR Politik – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memperkuat kerja sama strategis dengan sejumlah lembaga pendidikan, penelitian, dan industri kelautan di Republik Rakyat Tiongkok. Langkah ini menjadi bagian pemerintah memperkuat implementasi Blue Economy sekaligus meningkatkan daya saing sumber daya manusia (SDM) kelautan dan perikanan di tingkat global.
Kunjungan kerja yang berlangsung pada $27–31$ Oktober 2025 di Shenzhen dan Zhuhai ini juga bertepatan dengan partisipasi Indonesia dalam Workshop on Marine Biodiversity Conservation and Sustainable Community Development in APEC Economies.
“Kerja sama internasional menjadi kunci untuk memastikan Indonesia tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga pencipta inovasi kelautan. Melalui kolaborasi ini, kita memperkuat kapasitas SDM dan memperluas akses teknologi serta pengetahuan yang berkelanjutan,” ujar Kepala BPPSDM KP I Nyoman Radiarta dalam siaran resmi di Jakarta, Kami (6/11).
KKP memaparkan bahwa arah kebijakan ekonomi biru Indonesia bertumpu pada keseimbangan antara konservasi sumber daya laut dan kesejahteraan masyarakat melalui tiga program prioritas KKP, yakni Kampung Nelayan Merah Putih, perikanan budi daya tematik, dan program garam nasional.
Kemitraan akademik diperkuat melalui penandatanganan Letter of Intent (LoI) antara KKP dan Sun Yat-sen University, yang membuka peluang inovasi bersama di bidang konservasi karbon biru, perubahan iklim, dan teknologi kelautan.
Rangkaian kegiatan ini menghasilkan empat capaian utama, yaitu memperkuat posisi Indonesia di forum APEC sebagai pelopor implementasi kebijakan ekonomi biru; menjalin kembali kemitraan kelembagaan antara KKP dan institusi riset terkemuka Tiongkok; membuka peluang kerja sama konkret seperti joint training, expert exchange, dan riset terapan; serta mendapatkan dukungan industri untuk investasi teknologi budidaya berkelanjutan di Indonesia.
Sebagai tindak lanjut, BPPSDM KP akan menyusun peta jalan kerja sama dan mempersiapkan pelaksanaan Joint Training Program bersama FIO dan Hinesor Group pada November mendatang. Pertemuan juga dilakukan dengan Guangdong Ocean University (GOU) untuk membahas kerja sama dalam bidang akuakultur dan pendidikan vokasi. GOU menyatakan dukungan penuh terhadap program pertukaran pelajar dan tenaga ahli yang akan dimulai pada 2026.
“Kita ingin memastikan seluruh hasil kemitraan ini tidak berhenti di level diplomasi, tetapi benar-benar terimplementasi di lapangan — dari pendidikan vokasi hingga inovasi teknologi budidaya berkelanjutan,” tambah Nyoman.
Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono sebelumnya menegaskan bahwa investasi terbesar dalam ekonomi biru bukan hanya pada sumber daya alam, tetapi pada manusianya.
sumber : KKP RI















