PAUD sebagai Fondasi Indonesia Emas 2045, Kemendikbudristek Dorong Peran Bunda PAUD dan Layanan Holistik Inklusif

Jakarta, PR Politik – Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) kembali ditegaskan sebagai fondasi terpenting pembangunan manusia Indonesia. Dalam Gelar Wicara Apresiasi Bunda PAUD Tingkat Nasional 2025 yang berlangsung di Jakarta, Rabu (12/11), pemerintah, akademisi, dan para penggerak daerah menekankan bahwa investasi pada PAUD merupakan langkah strategis untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045.

Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah (PDM), Gogot Suharwoto, menyampaikan apresiasi kepada seluruh Bunda PAUD di Indonesia, menegaskan bahwa pembangunan karakter dan kompetensi anak dimulai sejak usia dini.

“Pilar utama pembangunan manusia Indonesia yang unggul di masa depan adalah pendidikan anak usia dini yang bermutu. Perluasan layanan PAUD mengalami kemajuan signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, yang ditandai dengan Angka Partisipasi Sekolah (APS) usia 5–6 tahun mencapai 74,15%, serta 74,67% satuan PAUD telah menerapkan layanan holistik integratif (PAUD-HI) berdasarkan data DAPODIK, EMIS, dan BPS Tahun 2024. Pertumbuhan ini menjadi bukti hadirnya komitmen dan partisipasi semesta dalam mewujudkan PAUD bermutu,” paparnya.

Meski capaian ini menggembirakan, masih terdapat sekitar juta anak usia 5–6 tahun yang belum mendapatkan layanan prasekolah. Oleh karena itu, strategi PAUD inklusif-holistik yang melibatkan pemerintah daerah, sektor kesehatan, dan komunitas menjadi prioritas utama.

Direktur PAUD, Nia Nurhasanah, menegaskan peran strategis Bunda PAUD sebagai penggerak utama. “Bunda PAUD adalah pilar kelima Partisipasi Semesta. Mereka bukan hanya tokoh seremonial, tetapi penghubung penting antara kebijakan nasional dan kebutuhan nyata masyarakat. Mereka memastikan setiap anak mendapatkan layanan PAUD Holistik Integratif yang berkualitas,” ujarnya.

Sementara itu, Guru Besar UIN Jakarta, Maila Dinia Husni Rahiem, mengutip ekonom peraih Nobel, James Heckman, yang menyatakan bahwa investasi pada PAUD mampu menghasilkan tingkat pengembalian hingga per tahun. “Inilah alasan mengapa layanan PAUD harus menjadi prioritas. Ia tidak hanya membangun kompetensi anak, tetapi juga mencegah munculnya masalah di jenjang berikutnya,” katanya.

Baca Juga:  Ditjenpas Perkuat Pengawasan Untuk Cegah Gangguan Keamanan Di Lapas & Rutan

Gelar Wicara ini menampilkan praktik baik dari dua figur inspiratif: Aisyah Thisia Agustiar Sabran dari Provinsi Kalimantan Tengah dan Inocentia Kelanit Agawemu dari Kabupaten Mappi, Papua Selatan.

Aisyah, Bunda PAUD Provinsi Kalimantan Tengah, menekankan pendekatan kepemimpinan kolaboratif yang mampu memobilisasi perangkat daerah hingga masyarakat. Ia aktif membangun jejaring antara lembaga PAUD, posyandu, dan puskesmas untuk memperkuat layanan Holistik Integratif, termasuk skrining tumbuh kembang dan pemantauan gizi.

“Saya harus memastikan setiap pihak memahami perannya. Ketika dinas kesehatan, dinas pendidikan, kader posyandu, PAUD, dan orang tua bergerak bersama, layanan PAUD menjadi lebih kuat dan berkelanjutan,” ujarnya.

Dari Papua Selatan, Bunda PAUD Kabupaten Mappi, Inocentia Kelanit Agawemu, menghadirkan cerita ketangguhan khas wilayah 3T. Menghadapi medan sulit dan akses terbatas, Inocentia mengandalkan pendekatan berbasis kearifan lokal.

“Kami tidak bisa menunggu. Kami harus menjemput bola,” tegasnya. Ia membangun model PAUD Kampung dengan melibatkan tokoh adat, pemuka agama, dan mama-mama Papua sebagai pengasuh lokal, memanfaatkan honai atau balai kampung sebagai tempat belajar sederhana.

sumber : Kemendikdasmen RI

Bagikan:

Berita Terbaru

Artikel Lainnya

Infografis Terbaru