Jakarta, PR Politik – Anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi Partai Demokrat, Marwan Cik Asan, mendorong pemerintah Indonesia untuk segera mengantisipasi dampak dan menyiapkan solusi atas kebijakan tarif impor baru yang diumumkan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump.
Menurut Marwan, kebijakan tersebut berpotensi memengaruhi dinamika perdagangan internasional serta memberikan dampak signifikan terhadap perekonomian nasional. Ia menegaskan bahwa langkah antisipatif harus segera dilakukan oleh pemerintah.
“Kami mendorong pemerintah segera mengantisipasi dampak perang tarif ini, sekaligus mencarikan solusi-solusi mengantisipasi dampak perang tarif ini,” kata Marwan, Jumat (4/4/2025).
Ia menjelaskan bahwa kebijakan tarif baru dari AS ini bisa memengaruhi nilai tukar rupiah, harga emas, serta neraca perdagangan Indonesia dengan AS. Produk-produk ekspor unggulan seperti mesin dan peralatan listrik, garmen, lemak dan minyak nabati, alas kaki, hingga produk hewan air, dinilainya akan mengalami penurunan daya saing akibat kenaikan tarif di pasar AS.
“Peningkatan tarif ini akan menyebabkan harga barang asal Indonesia menjadi lebih mahal di pasar AS, yang berpotensi mengurangi daya saing produk-produk tersebut,” jelasnya.
Marwan menambahkan bahwa kebijakan ini juga berdampak terhadap sektor industri pengolahan yang sangat bergantung pada ekspor dan menyerap sekitar 13,28 persen tenaga kerja Indonesia pada tahun 2023. “Sehingga dampak dari kebijakan ini dapat dirasakan oleh jutaan pekerja di sektor tersebut,” imbuhnya.
Meski demikian, ia mengutip riset dari Economist Intelligence Unit (EIU) yang memperkirakan dampak langsung terhadap Indonesia tidak akan sebesar negara-negara Asia Pasifik lainnya seperti China, Jepang, dan Vietnam. Namun, Marwan tetap mengingatkan adanya potensi dampak tidak langsung yang harus diwaspadai.
“Jika ekspor dari negara-negara mitra dagang utama Indonesia seperti China dan Jepang ke AS menurun akibat kebijakan ini, maka permintaan mereka terhadap produk Indonesia juga dapat ikut menurun. Hal ini berisiko menghambat pertumbuhan sektor industri dalam negeri yang bergantung pada rantai pasok global,” ujarnya.
Untuk itu, ia merekomendasikan beberapa langkah strategis. Salah satunya, diversifikasi pasar ekspor dan pengurangan ketergantungan terhadap pasar AS dengan memperluas hubungan dagang ke negara-negara lain.
“Perjanjian perdagangan bebas dengan negara-negara potensial dapat menjadi salah satu solusi untuk mengamankan pasar alternatif bagi produk-produk ekspor Indonesia,” sarannya.
Marwan juga menilai pentingnya pemberian insentif pajak dan subsidi kepada industri terdampak sebagai upaya menjaga daya saing dan kestabilan sektor manufaktur.
Dari sisi kebijakan moneter, ia menekankan perlunya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui langkah adaptif. Bank Indonesia, menurutnya, dapat mengoptimalkan cadangan devisa dan melakukan intervensi pasar jika diperlukan guna meredam gejolak nilai tukar.
“Dalam forum bilateral, pemerintah Indonesia juga dapat bernegosiasi dengan AS untuk memperoleh pengecualian tarif bagi beberapa produk ekspor utama atau memperbarui program Generalized System of Preferences (GSP) guna mempertahankan akses istimewa ke pasar AS,” tambahnya.
Marwan menyatakan bahwa meskipun kebijakan tarif tersebut membawa tantangan baru bagi perekonomian nasional, dampaknya masih dapat dikelola melalui langkah-langkah mitigasi yang tepat.
“Dengan pendekatan yang mencakup diversifikasi pasar, kebijakan fiskal dan moneter yang adaptif, serta diplomasi perdagangan yang proaktif, saya yakin Indonesia dapat tetap menjaga stabilitas ekonomi dan mempertahankan pertumbuhan di tengah dinamika perdagangan global yang semakin kompleks,” pungkasnya.
Sumber: fraksidemokrat.com















