Jakarta, PR Politik – Anggota Komisi XIII DPR RI, M. Shadiq Pasadigoe, menyambut positif putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang mewajibkan adanya keterwakilan perempuan minimal 30 persen di pimpinan alat kelengkapan dewan (AKD) DPR RI. Ia menilai putusan tersebut merupakan langkah maju dalam memperkuat demokrasi yang inklusif serta bentuk pengakuan terhadap peran penting perempuan dalam dunia politik dan kepemimpinan nasional.
“Saya sangat mengapresiasi putusan MK ini. Ini bukan sekadar regulasi, tapi pengakuan terhadap peran penting perempuan dalam membangun bangsa. Indonesia semakin matang secara konstitusional dan moral,” ujar Shadiq di Jakarta, Sabtu (1/11/2025).
Politisi Partai NasDem itu menilai, keputusan MK sejalan dengan nilai-nilai luhur budaya Minangkabau yang sejak lama menempatkan perempuan sebagai figur sentral dalam kehidupan sosial dan keluarga.
“Di Minangkabau, perempuan itu adalah limpapeh rumah nan gadang — tiang utama yang menjaga marwah keluarga dan masyarakat. Jadi, ketika MK menegaskan 30 persen keterwakilan perempuan, sesungguhnya itu menghidupkan kembali nilai luhur yang sudah mendarah daging di tanah Minang,” ungkapnya.
Shadiq menambahkan, kebijakan tersebut bukan hanya soal kesetaraan gender, tetapi juga menyangkut efektivitas dan kualitas kepemimpinan di parlemen.
“Kita butuh keseimbangan dalam mengambil keputusan strategis. Kehadiran perempuan akan memperkaya perspektif dan memperkuat etika politik di tubuh DPR. Ini momentum bersejarah yang harus kita sambut dengan kerja nyata,” tegasnya.
Mahkamah Konstitusi sebelumnya mengabulkan uji materi terhadap Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2014 tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD (UU MD3). Dalam putusan Nomor 169/PUU-XXII/2024, MK menegaskan bahwa DPR wajib memenuhi keterwakilan perempuan minimal 30 persen dalam jajaran pimpinan AKD.
Menanggapi hal itu, Shadiq menekankan agar DPR segera menyesuaikan tata tertib internalnya sehingga amanat putusan MK dapat segera diimplementasikan secara konkret.
“NasDem akan terus mendorong agar amanat ini tidak berhenti di atas kertas. Saya percaya, ketika perempuan diberi ruang, bangsa ini akan tumbuh lebih beradab, lebih manusiawi, dan lebih kuat. Dari perempuan Minang kita belajar, bahwa kepemimpinan sejati lahir dari keseimbangan akal dan hati,” pungkas Shadiq.















