Kemenperin Sukses Gelar Batik City Run 2025 di Yogyakarta: Bukti Batik Adaptif di Gaya Hidup Urban

Yogyakarta, PR Politik – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus proaktif mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, agar bangga mengenakan batik dan menjadikannya bagian dari gaya hidup modern. Upaya ini diwujudkan melalui Batik City Run (BCR) 2025 yang diselenggarakan oleh Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik (BBSPJIKB) dengan mengusung tema “Batik Goes Urban: Identitas Lokal, Selera Global” di Yogyakarta, Minggu (12/10).

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita memberikan apresiasi. “Kegiatan Batik City Run menjadi wujud nyata sinergi antara olahraga, budaya, dan industri kreatif untuk memperkuat daya saing batik Indonesia,” kata Menperin dalam keterangannya di Jakarta, Senin (13/10).

Menperin menegaskan bahwa tema Batik Goes Urban menegaskan bahwa batik bukan sekadar busana tradisional, melainkan juga identitas yang mampu beradaptasi dengan tren masa kini.

BCR 2025 secara resmi dilepas oleh Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X. Lebih dari 1.300 pelari dari berbagai daerah dengan scarf batik memadati kawasan Benteng Vredeburg, menunjukkan fleksibilitas batik di ruang publik.

Kepala Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI) Andi Rizaldi menyampaikan, nilai ekspor batik menembus hingga USD5,09 juta pada triwulan II tahun 2025, naik 27,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2024.

“Kami di BSKJI berkomitmen terus memperkuat standardisasi, mutu, dan jasa industri yang menopang pengembangan batik melalui berbagai layanan yang telah disediakan. Kegiatan Batik City Run 2025 ini sangat relevan karena menunjukkan bahwa batik tidak hanya untuk acara adat atau seremonial, tetapi juga untuk ruang publik modern, termasuk olahraga dan aktivitas sehari-hari,” tuturnya.

Kepala BBSPJIKB Jonni Afrizon menegaskan bahwa BCR 2025 dihelat sebagai sarana edukasi bagi masyarakat luas untuk mencintai batik Indonesia. “Melalui Batik City Run, kami ingin menunjukkan bahwa batik hidup di tengah masyarakat modern. Batik dapat dikenakan di berbagai suasana, termasuk saat berlari, beraktivitas, dan berekreasi,” ujarnya.

Baca Juga:  Indonesia Siapkan Perpres Kecerdasan Artifisial, Dorong Tata Kelola AI yang Etis dan Transparan

Kolaborasi dalam pengembangan batik juga diwujudkan melalui kerja sama dengan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dalam pemanfaatan produk turunan kelapa sawit. Analis BPDP Farouq Rosyadi menjelaskan, malam batik berbasis sawit lebih mudah didapatkan dan ramah lingkungan.

“Malam batik sawit lebih mudah didapatkan dan ramah lingkungan, serta memanfaatkan sumber daya lokal. Bahkan cangkang kelapa sawit juga bisa dimanfaatkan sebagai pewarna alami batik. Kami berharap pembatik bisa meningkatkan kreativitasnya dengan bahan baku malam sawit yang ada,” ujarnya.

Selain itu, BBSPJIKB bekerja sama dengan PT Panasonic Gobel Indonesia memperkenalkan produk mesin cuci Seri Batik model NA-W80BBZ4. Mesin ini dirancang khusus untuk mencuci batik tanpa merusak serat kain dan warna alaminya, dan telah teruji di laboratorium BBSPJIKB.

“Kami memberikan apresiasi atas kerjasama yang terjalin dengan Panasonic dalam menciptakan Panasonic Seri Batik guna menjawab kebutuhan masyarakat luas dalam mencuci produk batik dengan tanpa merusak serat dan warna,” tambah Kepala BBSPJIKB, Jonni Afrizon.

Direktur PT Panasonic Gobel Indonesia Arif Gobel menegaskan bahwa inovasi ini mencerminkan filosofi perusahaan untuk mendukung keberlanjutan budaya.

“Kami ingin menunjukkan bahwa inovasi teknologi bisa berjalan seiring dengan pelestarian budaya. Bagi Panasonic, batik bukan sekadar kain, melainkan simbol persatuan dan identitas bangsa yang perlu dijaga kualitasnya,” tuturnya.

 

 

sumber : Kemenperin RI

Berita Terbaru

Artikel Lainnya

Infografis Terbaru