Hadapi Tekanan Global, Wamendag Roro Esti Serukan Strategi “Resilience Without Retreat” bagi ASEAN

Taguig, PR Politik – Wakil Menteri Perdagangan RI, Dyah Roro Esti Widya Putri, menegaskan urgensi penguatan respons kolektif negara-negara Asia Tenggara dalam menghadapi fragmentasi geoekonomi dan disrupsi rantai pasok dunia. Hal tersebut disampaikan Wamendag Roro saat menghadiri Pertemuan ke-32 Menteri Ekonomi ASEAN Retreat (32nd AEM Retreat) di Taguig, Filipina, Jumat (13/3).

Dalam pertemuan strategis tersebut, Indonesia mengusung semangat ketangguhan tanpa langkah mundur guna menjaga stabilitas ekonomi kawasan di tengah ketegangan geopolitik global.

“Kesempatan ini menjadi peluang tepat bagi negara anggota ASEAN untuk menguatkan respons kolektif melalui resillience without retreat dalam menghadapi tekanan global. Respons ini menekankan pentingnya bersama-sama menghadapi fragmentasi geoekonomi dan disrupsi rantai pasok, dengan menyusun kebijakan yang mengedepankan keamanan ekonomi anggota ASEAN,” ungkapnya.

Ia menyoroti dua tantangan utama yang membayangi ASEAN: kenaikan harga energi akibat konflik di Timur Tengah dan dinamika kebijakan perdagangan Amerika Serikat (AS). Mengingat ketergantungan beberapa negara ASEAN terhadap pasokan bahan bakar mineral, Indonesia mendorong adanya koordinasi penyediaan cadangan energi strategis di tingkat regional.

Terkait kebijakan perdagangan AS yang berpotensi memicu hambatan tarif, Wamendag menekankan pentingnya sikap kompak seluruh anggota ASEAN.

“Pertama, meski Indonesia dan beberapa negara ASEAN telah masing-masing melakukan upaya negosiasi dengan AS, tetap dibutuhkan respons kolektif bersama ASEAN untuk mengantisipasi tindakan terkait tarif yang dapat merugikan di masa mendatang. ASEAN harus terus memonitor, berkoordinasi, dan menegaskan kembali komitmen pada sistem perdagangan multilateral berbasis aturan, termasuk menyerukan kepada negara mitra dan observer ASEAN untuk menghormati prinsip yang sama,” jelasnya.

Guna meminimalkan dampak guncangan global, Indonesia mendorong pemanfaatan maksimal perjanjian perdagangan bebas yang sudah ada, seperti RCEP (Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional) dan ASEAN+1. Langkah ini diyakini mampu memperkuat rantai pasok melalui diversifikasi pasar di dalam kawasan sendiri.

Baca Juga:  Istana Merdeka Gelar Pesta Rakyat Pertama, Satukan Masyarakat dan UMKM dalam Perayaan Kemerdekaan

“ASEAN harus meningkatkan implementasi perjanjian ekonomi yang ada, seperti perjanjian perdagangan bebas ASEAN+1 dan Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (RCEP). Dengan begitu, diharapkan akan memperkuat ketahanan rantai pasokan dengan memperdalam perdagangan intra-regional dan mendukung diversifikasi rantai pasokan,” tegasnya.

Indonesia juga menyatakan dukungan penuh terhadap target penandatanganan ASEAN Digital Economy Framework Agreement (DEFA) pada KTT ASEAN November 2026 mendatang. DEFA diproyeksikan menjadi perjanjian ekonomi digital pertama di dunia yang akan mempercepat transformasi ekonomi kawasan.

Senada dengan Indonesia, Sekretaris Jenderal ASEAN Kao Kim Hourn menggarisbawahi peran krusial Dewan Masyarakat Ekonomi ASEAN (AECC) sebagai platform penyelesaian isu lintas sektor, mulai dari keamanan ekonomi hingga integrasi kawasan. Melalui sinergi ini, ASEAN optimistis dapat tetap menjadi pusat produksi global yang kompetitif dan andal di masa depan.

sumber : Kemendag RI

Berita Terbaru

Artikel Lainnya

Infografis Terbaru