Jakarta, PR Politik – Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung menyatakan bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap solid di tengah terjangan ketidakpastian global dan konflik geopolitik. Pemerintah memastikan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dikelola secara hati-hati (prudent) namun tetap fleksibel menghadapi dinamika dunia.
“Fundamental ekonomi kita masih kuat dan resilient. Pertumbuhan ekonomi tetap terjaga, inflasi terkendali, dan defisit fiskal masih di bawah batas yang ditetapkan undang-undang,” ujarnya dalam Rapimnas PB IKAPMII di Jakarta, Kamis (5/3).
Menanggapi potensi kenaikan harga minyak akibat konflik geopolitik, Juda menegaskan bahwa pemerintah telah menyiapkan berbagai skenario mitigasi. Fiskal Indonesia dinilai masih sangat mampu menyerap dampak jika harga minyak dunia menyentuh level USD 80 hingga USD 90 per barel tanpa melampaui batas defisit yang ditetapkan.
Pada tahun 2025, ekonomi Indonesia tercatat tumbuh 5,11 persen dengan lonjakan signifikan di triwulan IV mencapai 5,39 persen. Sementara itu, defisit fiskal tetap terjaga di angka 2,92 persen, sesuai dengan aturan Undang-Undang Keuangan Negara yang membatasi defisit di bawah 3 persen.
Wamenkeu menekankan pentingnya memaksimalkan momentum bonus demografi yang akan berakhir pada kisaran 2035–2040. Dengan pendapatan per kapita saat ini di kisaran USD 5.000, Indonesia harus bekerja keras untuk mencapai standar negara maju di atas USD 13.000.
“Kalau kita melewatkan periode ini, kita berisiko menjadi negara yang tua sebelum kaya,” katanya. Oleh karena itu, pemerintah kini membidik target pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen guna mempercepat transformasi Indonesia menjadi negara maju.
Untuk mendukung visi jangka panjang tersebut, pemerintah merancang APBN 2026 dengan total belanja negara sebesar Rp3.847 triliun dan penerimaan Rp3.153 triliun. Defisit ditargetkan lebih ramping di angka 2,68 persen dari PDB.
Dari sisi rasio utang, Indonesia berada di angka 40 persen terhadap PDB, jauh di bawah batas maksimal 60 persen. Hal ini menunjukkan peringkat kredit Indonesia masih sangat kompetitif di level global.
Menutup keterangannya, Wamenkeu optimis pada triwulan I-2026, ekonomi nasional akan melesat hingga 5,5 persen, didorong oleh konsumsi masyarakat selama momentum Ramadan dan penyaluran Tunjangan Hari Raya (THR).
sumber : Kemenkeu RI















