Edy Wuryanto: Rumah Sakit Vertikal Perlu Tingkatkan Standar Layanan dan Pendidikan Spesialis

Anggota Komisi IX DPR RI, Edy Wuryanto | Foto: (dok)

Jakarta, Pr Politik (13/11)  — Anggota Komisi IX DPR RI, Edy Wuryanto, mengapresiasi kemajuan yang dicapai oleh rumah sakit vertikal di Indonesia, seperti yang terlihat pada Rumah Sakit Karyadi. Namun, Edy menyoroti sejumlah isu krusial terkait daya saing layanan manajemen kesehatan dan standar pendidikan spesialis di rumah sakit-rumah sakit vertikal.

Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan para direktur utama rumah sakit vertikal Kemenkes di Gedung Nusantara I, DPR RI, Jakarta, Edy mengungkapkan bahwa ketimpangan distribusi dokter spesialis menjadi tantangan besar. Ia menekankan bahwa masyarakat di daerah terpencil, khususnya di luar Pulau Jawa, kerap kesulitan mengakses layanan medis berkualitas.

“Jangan sampai seluruh pasien hanya bisa berobat di rumah sakit vertikal yang ada di Jawa. Banyak masyarakat di pelosok tanah air yang membutuhkan akses kesehatan, namun terpinggirkan karena rumah sakit yang bisa menangani penyakit mereka hanya ada di Jawa,” ujar Edy, Legislator Fraksi PDI-Perjuangan.

Selain ketimpangan akses kesehatan, Edy mengkhawatirkan adanya persaingan tidak sehat antara pendidikan spesialis berbasis rumah sakit dan universitas. Menurutnya, standar pendidikan yang berbeda dapat berdampak negatif pada kualitas layanan kesehatan.

“Saya khawatir ada perbedaan standar dalam input, proses, output, dan hasil pendidikan antara yang berbasis rumah sakit dan universitas. Hal ini bisa berdampak pada kualitas pelayanan kesehatan dan akan berpengaruh pada masyarakat,” tegas Edy.

Baca Juga: Fraksi PKS Apresiasi Kepemimpinan Perempuan dalam Penegakan Hukum di Kejaksaan Tinggi

Edy meminta Kemenkes segera merumuskan regulasi untuk menyelaraskan standar pendidikan spesialis, baik di rumah sakit maupun di universitas, guna menghindari ketidakadilan dalam layanan kesehatan.

Ia juga menekankan pentingnya peran rumah sakit vertikal sebagai pusat pendidikan tenaga medis. Menurutnya, rumah sakit ini harus mengintegrasikan pelayanan kesehatan berkualitas dengan pendidikan tenaga medis agar menghasilkan dokter spesialis kompeten untuk seluruh wilayah Indonesia.

Baca Juga:  Cheroline Chrisye Makalew Desak Kuota Khusus Tenaga Kerja Papua di PT Freeport Indonesia

“Pendidikan dan pelayanan harus berjalan beriringan. Rumah sakit vertikal harus menjadi model yang tidak hanya menyediakan pelayanan kesehatan berkualitas, tetapi juga menghasilkan dokter spesialis yang kompeten untuk seluruh Indonesia,” lanjutnya.

Edy menekankan perlunya perbaikan sistem kesehatan secara menyeluruh, khususnya pada aspek daya saing rumah sakit, distribusi tenaga medis, dan kualitas pendidikan tenaga kesehatan. Semua aspek ini, kata Edy, berkontribusi pada ekosistem layanan kesehatan yang adil dan merata bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Ia juga mengingatkan para direktur rumah sakit vertikal untuk aktif membangun sistem manajemen yang efektif. “Para direktur rumah sakit vertikal harus berperan aktif dalam menciptakan sistem manajemen yang baik. Jika mereka tidak memahami bagaimana mengelola ekosistem rumah sakit dengan baik, maka semua catatan yang kami sampaikan di Komisi IX hanya akan menjadi teori belaka,” pungkas Edy.

Dengan adanya perhatian terhadap kualitas layanan dan pendidikan di rumah sakit vertikal, Edy berharap pelayanan kesehatan di seluruh Indonesia dapat terus meningkat dan lebih merata.

 

Sumber: dpr.go.id

Berita Terbaru

Artikel Lainnya

Infografis Terbaru