Taliwang, PR Politik – Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli meresmikan dimulainya revitalisasi Balai Latihan Kerja (BLK) Sumbawa Barat yang kini direlokasi dari Kecamatan Poto Tano ke Kecamatan Taliwang, Nusa Tenggara Barat. Langkah strategis ini diambil untuk mempermudah aksesibilitas masyarakat terhadap pusat pelatihan vokasi sekaligus menyelaraskan kompetensi tenaga kerja dengan kebutuhan industri global.
Menaker menegaskan bahwa revitalisasi ini merupakan bagian dari penguatan peran BLK sebagai pusat penyiapan Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul dan kompetitif.
“BLK tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan pasar kerja domestik, tetapi juga mempersiapkan tenaga kerja Indonesia agar siap bekerja di luar negeri,” ujarnya saat peletakan batu pertama revitalisasi BLK Sumbawa Barat, Kamis (22/1).
Pemindahan lokasi ke pusat kabupaten diharapkan mampu memangkas kendala jarak dan biaya transportasi bagi para pencari kerja. Selain infrastruktur fisik, BLK Sumbawa Barat diproyeksikan menjadi model transformasi nasional yang mengedepankan tata kelola profesional dan program pelatihan yang adaptif terhadap teknologi masa depan, seperti Artificial Intelligence (AI) dan digital marketing.
“Saya ingin BLK Sumbawa Barat menjadi contoh bagi BLK lain. Ini memang tidak mudah, tetapi sangat mungkin dicapai dengan komitmen dan kolaborasi yang kuat,” tegasnya.
Dalam pengembangannya, Yassierli menekankan pentingnya prinsip inklusivitas. Pelatihan vokasi di BLK ini dirancang untuk memberikan kesempatan setara bagi seluruh lapisan masyarakat, termasuk penyandang disabilitas. Pemerintah berkomitmen agar setiap warga negara memiliki hak yang sama untuk hidup sejahtera melalui pekerjaan yang layak.
“Kita harus membuka peluang yang sama bagi semua. Setiap warga negara berhak bekerja dan hidup sejahtera,” tambahnya.
Selain urusan infrastruktur, Menaker juga memberikan pembekalan kepada Aparatur Sipil Negara (ASN) di Sumbawa Barat. Ia menyoroti pentingnya perubahan pola pikir dalam menghadapi tantangan otomatisasi dan digitalisasi yang mengancam pasar kerja tradisional.
“Tantangan seperti kesenjangan kompetensi, keterbatasan akses pelatihan berkualitas, serta dampak otomatisasi dan digitalisasi membutuhkan perubahan mendasar dari cara pemerintah melayani masyarakat,” pungkasnya.
Revitalisasi ini diharapkan menjadikan Sumbawa Barat sebagai role model pengembangan ketenagakerjaan di kawasan Indonesia Timur, sekaligus motor penggerak pertumbuhan ekonomi daerah melalui penyediaan tenaga kerja bersertifikat internasional.
sumber : Kemnaker RI















