Dampak Ekonomi Capai Rp27 Triliun, Kemenperin dan PIKKO Dorong Penggunaan Unit Lokal untuk Kendaraan Operasional Desa

Jakarta, PR Politik – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memperkuat ekosistem industri otomotif nasional, khususnya pada segmen kendaraan komersial dan niaga seperti pick-up. Langkah ini diambil guna memastikan industri komponen lokal, terutama Industri Kecil dan Menengah (IKM), dapat terintegrasi penuh dalam rantai pasok global maupun domestik.

Melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA), Kemenperin konsisten memberikan pendampingan teknis mulai dari sertifikasi ISO 9001, implementasi Industri 4.0, hingga fasilitasi link and match dengan industri besar. Upaya ini bertujuan agar IKM dapat naik kelas dan menjadi penopang utama bagi Original Equipment Manufacturer (OEM).

Menteri Perindustrian menggarisbawahi bahwa kemandirian industri otomotif memiliki dampak pengganda (multiplier effect) yang sangat besar bagi perekonomian nasional. Sebagai gambaran, jika pengadaan 70.000 unit kendaraan pick-up dipenuhi oleh produk dalam negeri, maka potensi dampak ekonomi (backward linkage) diperkirakan mencapai Rp27 triliun.

Pemanfaatan produk lokal akan menghidupkan berbagai subsektor industri pendukung, seperti industri ban, kaca, baterai (accu), logam, plastik, hingga kabel dan elektronik. Hal ini tidak hanya meningkatkan nilai tambah ekonomi, tetapi juga menjamin penyerapan tenaga kerja yang masif di dalam negeri.

Di tengah upaya penguatan industri lokal, Asosiasi Perkumpulan Industri Kecil dan Menengah Komponen Otomotif (PIKKO) menyatakan kekecewaannya terkait informasi rencana importasi kendaraan operasional Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). PIKKO menilai langkah impor tersebut dapat mendisrupsi ekosistem industri yang saat ini utilisasi produksinya baru mencapai 60-70 persen.

Ketua PIKKO, Rosalina Faried, menegaskan bahwa kemampuan industri komponen dalam negeri, yang terdiri dari 110 IKM dengan ribuan tenaga kerja, sudah sangat mumpuni untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

“Kami memahami bahwa kebutuhan ini sangat mendesak, tetapi pengadaannya agar tetap mengutamakan penggunaan produksi dalam negeri, mengingat kemampuan industri otomotif dan komponen otomotif dalam negeri sudah sangat mumpuni untuk memenuhi kebutuhan tersebut,” ujarnya.

Baca Juga:  147 Juta Orang Mudik Lebaran 2026, Menhub Dudy Tutup Posko Terpadu dengan Catatan Penurunan Fatalitas Kecelakaan

PIKKO mengkhawatirkan kebijakan impor utuh (Completely Built Up) akan mengancam keberlangsungan sekitar 6.000 tenaga kerja di sepanjang rantai pasok komponen otomotif. Mengingat industri otomotif nasional yang saat ini cenderung lesu, PIKKO berharap Pemerintah melakukan pembatasan impor, khususnya dari India, dan memberikan kesempatan bagi produsen lokal.

Sinergi antara Kemenperin dan IKM sebelumnya telah terbukti sukses melalui peluncuran Alat Mekanis Multiguna Perdesaan (AMMDes) yang melibatkan komponen buatan lokal. Pengalaman ini membuktikan bahwa IKM binaan Ditjen IKMA memiliki kompetensi tinggi dalam mengembangkan kendaraan niaga yang sesuai dengan kebutuhan wilayah perdesaan di Indonesia.

sumber : Kemenperin RI

Berita Terbaru

Artikel Lainnya

Infografis Terbaru