Bidik Enam Sektor Investasi Baru, Kemenperin Gandeng Zona Ekonomi Khusus Xiamen Tiongkok

Xiamen, PR Politik – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) bergerak progresif memperluas sirkuit jejaring kerja sama internasional demi mempercepat roda transformasi industri manufaktur domestik di panggung global. Langkah taktis ini diwujudkan Kemenperin dengan menjajaki peluang kolaborasi investasi yang lebih intim bersama Pemerintah Kota Xiamen, Republik Rakyat Tiongkok (RRT), di sela-sela rangkaian forum tingkat tinggi BRICS Forum on Partnership on New Industrial Revolution (PartNIR) 2026.

Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, memaparkan bahwa Forum BRICS PartNIR bertindak sebagai platform krusial dalam memperkuat basis transformasi industri serta adopsi teknologi mutakhir.

“Indonesia berkomitmen untuk terus memperluas kolaborasi internasional yang mampu memberikan nilai tambah nyata bagi pengembangan industri nasional, khususnya dalam menyongsong era revolusi industri keempat,” tegasnya dalam draf keterangan tertulisnya di Jakarta.

Amanat menteri tersebut langsung ditindaklanjuti secara nyata melalui sirkuit pertemuan bilateral antara delegasi Indonesia yang dinakhodai Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan, dan Akses Industri Internasional (KPAII) Kemenperin, Tri Supondy, bersama Wali Kota Xiamen, Wu Bin, di Xiamen. Agenda diplomasi ekonomi ini dikunci untuk membahas optimalisasi potensi Xiamen sebagai salah satu Special Economic Zone (SEZ) atau Zona Ekonomi Khusus (ZEK) terkemuka di Negeri Tirai Bambu.

“Kami melihat Xiamen memiliki ekosistem industri yang sangat maju dan relevan dengan arah pengembangan industri Indonesia. Melalui kemitraan yang lebih erat, kami berharap dapat mendorong masuknya investasi, transfer teknologi, serta kolaborasi yang mendukung penguatan rantai pasok global dan pengembangan kawasan industri yang berkelanjutan,” ungkap Dirjen KPAII, Tri Supondy.

Merespons lampu hijau dari pihak Jakarta, Pemerintah Kota Xiamen secara resmi telah menyodorkan draf proposal kerja sama yang membidik enam sektor unggulan untuk dijadikan pipeline investasi masa depan di Indonesia, meliputi:

  • Industri manufaktur otomotif global.

  • Pembangunan infrastruktur siber data center.

  • Industri layanan kesehatan modern.

  • Pengembangan ekosistem pariwisata digital hibrida.

  • Industrialisasi dan tata kelola sektor perikanan.

  • Pabrikasi konstruksi prefabrikasi pintar.

Baca Juga:  Menteri Sosial: DTSEN Adalah Strategi Utama Presiden untuk Memastikan Bansos Tepat Sasaran

Sebagai salah satu pionir SEZ pertama di RRT, Kota Xiamen mengantongi keunggulan komparatif raksasa pada industri semikonduktor, komponen elektronik, peralatan listrik pintar, logistik pelabuhan, hingga pemeliharaan aviasi (Maintenance, Repair, and Overhaul/MRO). Seluruh potensi tersebut dianalisis sangat linier dengan agenda prioritas peta jalan Making Indonesia 4.0.

Guna mengunci ketertarikan para taipan Xiamen, delegasi Indonesia secara agresif mempromosikan daya pikat investasi di sektor perwilayahan industri dalam negeri. Saat ini, yurisdiksi Indonesia tercatat mengantongi 175 kawasan industri siap pakai dengan total bentangan luas lahan melampaui angka 98 ribu hektare.

Barisan megaproyek perwilayahan ini dinyatakan sangat siap menampung ekspansi pabrikasi dari Tiongkok, dengan garansi kucuran berbagai stimulus berupa insentif fiskal maupun nonfiskal guna menjamin iklim usaha yang kondusif, kompetitif, serta aman.

Hubungan bilateral ekonomi Jakarta dan Beijing sendiri terus menunjukkan kurva pertumbuhan yang positif. RRT saat ini kokoh berstatus sebagai mitra dagang terbesar Indonesia dengan nilai transaksi bilateral menembus USD 154,5 miliar pada tahun lalu, sekaligus konsisten menjadi salah satu investor utama di sektor hilirisasi komoditas tambang.

Menutup draf rilis diplomasinya, partisipasi aktif Indonesia dalam BRICS PartNIR ini mempertegas posisi tawar negara untuk terus mendikte pasar dan kemitraan teknologi siber global. Sinergi konkret yang tengah digodok bersama Pemkot Xiamen diharapkan mampu mempercepat lahirnya ekosistem manufaktur nasional yang inovatif, mandiri, berkelanjutan, serta bersih dari hambatan regulasi di lapangan.

sumber : Kemenperin RI

Berita Terbaru

Artikel Lainnya

Infografis Terbaru