Awal Tahun Mengesankan, Produksi Beras Januari 2026 Melonjak 38 Persen

Jakarta, PR Politik – Sektor pangan Indonesia menunjukkan performa gemilang di awal tahun 2026. Data terbaru mencatatkan produksi beras nasional pada Januari 2026 mencapai 1,75 juta ton, angka ini melesat tajam 38,56 persen jika dikomparasikan dengan periode yang sama tahun lalu yang sebesar 1,26 juta ton.

Peningkatan signifikan ini menjadi sinyal positif bagi stabilitas pangan nasional dan memperkuat optimisme terhadap kecukupan pasokan beras bagi masyarakat di seluruh tanah air.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa, Ateng Hartono, dalam pemaparannya pada Senin (2/3), menjelaskan bahwa lompatan produksi ini berbanding lurus dengan membaiknya kinerja panen di berbagai wilayah.

“Sejalan dengan gambaran produksi padi tersebut, produksi yang setara dengan beras untuk konsumsi pangan masyarakat pada bulan Januari tahun 2026 sebesar 1,75 juta ton atau meningkat 38,56 persen jika dibandingkan dengan Januari 2025 yang nilainya 1,26 juta ton,” ujarnya.

Pemerintah memprediksi tren positif ini akan terus berlanjut hingga puncak panen raya. Potensi produksi beras untuk periode Februari hingga April 2026 diperkirakan mampu menembus 12,23 juta ton. Dengan demikian, akumulasi produksi beras pada caturwulan pertama tahun ini diproyeksikan mencapai 13,98 juta ton.

Dari sektor hulu, produksi padi dalam bentuk Gabah Kering Giling (GKG) juga menunjukkan tren serupa. Pada Januari 2026, produksi GKG tercatat sebesar 3,04 juta ton, naik signifikan dari 2,20 juta ton GKG pada tahun sebelumnya. Total produksi padi sepanjang Januari–April 2026 diperkirakan mencapai 24,28 juta ton GKG.

Lonjakan produksi ini ditopang oleh luas panen yang mencapai 0,57 juta hektare pada bulan pertama tahun ini. Angka tersebut diproyeksikan terus bertambah hingga mencapai total 4,48 juta hektare pada akhir April mendatang.

Baca Juga:  Menhub dan Gubernur Jabar Sepakat Percepat Akses Jalan Patimban, Dorong Kolaborasi Lintas Sektor

Secara geografis, potensi panen padi terbesar pada periode mendatang masih terkonsentrasi di wilayah-wilayah lumbung pangan berikut:

  • Pulau Jawa: Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Banten.

  • Pulau Sumatera: Lampung, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, dan Aceh.

  • Pulau Sulawesi: Sulawesi Selatan.

  • Kalimantan & Nusa Tenggara: Kalimantan Barat dan Nusa Tenggara Barat.

Capaian ini diharapkan mampu menekan fluktuasi harga di pasar dan memastikan kedaulatan pangan tetap terjaga di tengah tantangan global.

sumber : Kementan RI

Berita Terbaru

Artikel Lainnya

Infografis Terbaru