Dalam era digital, kehidupan kita semakin didikte oleh apa yang viral. Bukan lagi sesuatu yang tumbuh dari interaksi langsung dalam ruang sosial, tetapi dari tren yang muncul dan lenyap dalam hitungan hari, bahkan jam.
Kemarin ”pagar laut”, hari ini ”Sukatani”, dan entah besok mungkin sesuatu yang baru lagi. Datang silih berganti, bertumpuk dalam memori kolektif publik.
Ironisnya, secara kulitas dan daya tahan malah mudah lekang serta rapuh, tergerus dalam siklus putaran informasi yang itu-itu aja. Fenomena ini bukan sekadar hiburan atau diskursus ringan, tetapi telah merembet ke berbagai aspek kehidupan, termasuk institusi, bisnis, dan bahkan kebijakan publik.
Efek viral dan fenomena ”brain rot”
Viralitas menciptakan pola pikir ”easy come, easy go”. Kita menyerap begitu banyak informasi dalam waktu singkat, tetapi dengan cepat melupakannya.
Akibatnya, terjadi fenomena yang disebut brain rot, yaitu kelelahan mental akibat konsumsi informasi instan yang dangkal. Menurut penelitian dari Pew Research Center (2021), sebesar 64 persen pengguna media sosial merasa lelah dengan banyaknya informasi yang berseliweran di internet, terutama yang bersifat kontroversial atau provokatif.
Selain kelelahan fisik, ada pula konsekuensi kognitif yang serius. Fenomena brain rot atau kemunduran kualitas berpikir akibat konsumsi informasi dangkal semakin marak terjadi. Nicholas Carr dalam bukunya, The Shallows: What the Internet Is Doing to Our Brains (2010), menjelaskan bagaimana internet, terutama media sosial, mengubah cara kita berpikir.

Paparan informasi cepat dan dangkal membuat otak kita kehilangan kemampuan untuk berpikir secara mendalam.
Kita menjadi lebih mudah teralihkan, sulit berkonsentrasi, dan kehilangan ketajaman analisis. Dengan kata lain, kita mungkin mengetahui banyak hal, tetapi kehilangan kemampuan untuk memahami sesuatu secara utuh.
Dikte algoritma dan kehilangan otentisitas
Sebuah studi riset dari The New York Times, ”The Psychology of Sharing” yang menganalisis 10.000 artikel paling banyak dibagikan di internet menemukan bahwa tiga respons emosional yang paling memicu viralitas adalah awe (kekaguman) sebesar 25 persen, kemudian laughter (tertawa) sebesar 17 persen, dan terakhir amusement (hiburan) sebesar 15 persen.
Konten yang memicu emosi positif memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk viral. Namun, tidak semua yang viral bersifat positif. Sering kali, konten kontroversial, sensasional, atau bahkan hoaks lebih mudah menyebar dibandingkan dengan konten berbasis fakta.
Selera kita saat ini tidak lagi sepenuhnya milik kita. Algoritma platform digital, seperti yang digunakan oleh Facebook, Instagram, dan Tiktok, telah memprediksi dan mengarahkan preferensi pengguna berdasarkan pola interaksi mereka.
Hal ini sesuai dengan teori filter bubble yang dikemukakan oleh Eli Pariser dalam bukunya, The Filter Bubble: What the Internet is Hiding from You (2011). Ia menjelaskan bagaimana algoritma menciptakan ruang informasi yang sempit. Pengguna hanya terpapar pada konten yang sudah disesuaikan dengan minat mereka sehingga membatasi eksplorasi dan keberagaman perspektif.
Tidak hanya individu yang terdampak oleh tren viral, tetapi juga organisasi dan institusi kini ikut terjebak dalam siklus viralitas ini.
Banyak perusahaan dan lembaga pemerintah mulai membentuk kebijakan berdasarkan tren media sosial. Fenomena ini disebut ”policy by trending topic”. Keputusan diambil bukan berdasarkan kajian mendalam, tetapi karena tekanan opini publik yang sementara.
Banyak organisasi yang berupaya mengikuti tren demi keterlibatan audiens sering kali mengorbankan nilai dan identitas mereka sendiri.
Contoh nyata adalah bagaimana berbagai merek dan tokoh publik sering kali terpaksa merespons isu viral agar tidak kehilangan relevansi. Namun, tekanan ini sering kali berujung pada kebijakan yang reaktif, bukan strategis.
Risiko ”burnout” dan kehilangan identitas
Keinginan untuk terus relevan dalam ekosistem digital menciptakan tekanan besar. Dalam dunia bisnis, banyak brand yang berusaha keras untuk ”menunggangi” tren viral, tetapi justru kehilangan identitas mereka.
Menurut penelitian dari Harvard Business Review (2023), perusahaan yang terlalu fokus pada pertumbuhan instan sering mengalami kekurangan sumber daya, kelelahan tim kreatif, dan kehilangan arah strategis. Mereka terjebak dalam siklus mengejar algoritma, alih-alih membangun keterhubungan jangka panjang dengan audiens mereka.
Sementara viralitas bisa membuka peluang besar, tekanan untuk tetap relevan dapat berujung pada kelelahan dan kurangnya kreativitas dalam produksi konten. Daripada mengejar viralitas instan, lebih baik fokus pada pertumbuhan yang berkelanjutan.

Terdapat sejumlah strategi yang lebih sehat, termasuk membangun narasi yang kuat. Di dalamnya, konsistensi lebih penting daripada sekadar viral sesaat.
Berikutnya, mengutamakan engagement dibandingkan dengan reach karena sejatinya keterlibatan yang berkualitas lebih bernilai daripada sekadar angka yang besar. Juga mengedepankan identitas dan nilai inti. Konten yang autentik dan selaras dengan visi jangka panjang akan lebih bertahan lama.
Penelitian The New York Times dalam studi The Psychology of Sharing menunjukkan bahwa orang berbagi konten tidak hanya karena viralitasnya, tetapi juga karena nilai dan makna yang mereka rasakan.
Faktor-faktor utama yang mendorong mereka untuk berbagi adalah membawa nilai dan hiburan kepada orang lain, menunjukkan identitas mereka kepada orang lain, memperkuat hubungan sosial, merasa lebih terhubung dengan dunia, dan menyebarkan isu atau misi yang mereka pedulikan.
Dengan kata lain, konten yang memiliki dampak emosional yang lebih mendalam dan mencerminkan nilai-nilai autentik lebih mungkin untuk bertahan dalam ingatan audiens daripada sekadar mengikuti tren viral.
Seperti yang dikatakan Simon Sinek dalam bukunya, Start with Why (2009), organisasi yang sukses adalah mereka yang tetap berpegang teguh pada ”mengapa” mereka ada, bukan hanya pada ”bagaimana” cara mendapatkan perhatian sesaat.
Menemukan jati diri di tengah arus viralitas
Dunia digital menawarkan kemudahan akses informasi, tetapi juga membawa tantangan besar dalam menjaga keseimbangan antara relevansi dan otentisitas. Mengikuti tren bukanlah sesuatu yang salah, tetapi harus dilakukan dengan bijak dan tetap berpegang pada nilai serta identitas yang dimiliki.
Daripada terus mengejar popularitas instan, strategi yang lebih berkelanjutan adalah membangun audiens yang loyal dengan menyajikan konten yang memiliki nilai jangka panjang.
Viralitas memang menggiurkan, tetapi dampaknya tidak selalu positif. Dalam dunia yang terus berubah dengan cepat, kita perlu lebih berhati-hati dalam menyerap dan merespons tren.
Alih-alih terus-menerus mengejar ketenaran sesaat, lebih bijak untuk membangun koneksi yang berarti, berpikir kritis, dan memastikan bahwa kita tidak kehilangan identitas dalam pusaran viralitas digital.
Penulis: Heryadi Silvianto (Founder PR Politik Indonesia)
Artikel ini telah tayang di kompas.id















