Jakarta, PR Politik (06/11) – Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi PKS, Riyono, menilai program pencetakan lahan baru seluas 3 juta hektar yang digagas oleh Presiden Prabowo Subianto melalui Kementerian Pertanian perlu perencanaan matang agar dapat menekan impor beras.
“Cetak sawah baru seluas 3 juta hektar di wilayah Indonesia Timur berpotensi besar menghasilkan jutaan ton beras. Namun, jika gagal, dampak kerugiannya bisa mencapai puluhan hingga ratusan triliun rupiah,” ujar Riyono.
Riyono mengingatkan bahwa program serupa di era Jokowi, yang menargetkan cetak lahan sawah seluas 1 juta hektar, hanya berhasil merealisasikan 500 ribu hektar. Biaya yang dikeluarkan saat itu mencapai triliunan rupiah. Pada 2016, biaya konstruksi cetak sawah rata-rata mencapai Rp16 juta per hektar, bahkan Rp19 juta di wilayah Maluku dan Papua. Jika target kali ini adalah 3 juta hektar, Kementan perlu anggaran besar.
Untuk memastikan keberhasilan program ini, Riyono mengusulkan pemerintah melibatkan petani muda. Menurutnya, petani milenial, terutama lulusan pertanian, memiliki potensi besar dalam memajukan pertanian. Berdasarkan data BPPSDMP Kementerian Pertanian 2020, petani berusia 20-39 tahun hanya sekitar 2,7 juta orang, atau 8% dari total petani Indonesia. Lebih dari 90% petani di Indonesia berusia lanjut.
“Jika ingin pertanian maju, Fraksi PKS mengusulkan agar petani milenial digaji minimal Rp5 juta per bulan. Dengan begitu, profesi petani menjadi lebih menarik bagi lulusan pertanian. Jika 1 juta petani muda menerima gaji Rp5 juta per bulan, anggarannya Rp60 triliun per tahun. Ini jumlah yang layak untuk mewujudkan ketahanan dan swasembada pangan nasional,” pungkas Riyono.
Sumber: fraksi.pks.id















